CyberTNI.id | JAKARTA, Jumat (9/1/2026) — Dari penemuan ICW ini ida ayu komang, jelas bahwa MBG bukan program pro rakyat tapi bisnis yang menjadikan rakyat sebagai objek keuntungan sebagian orang.
1, 2 TRILIUN RUPIAH. SETIAP HARI. Padahal, kalau benar mau memberantas lapar, yang dimapankan itu orang tuanya, bukan piring anaknya.
Coba pakai logika sederhana.
Satu rumah miskin punya tiga anak.
Yang sekolah satu.
Yang dua? Tetap lapar.
Ibunya? Lapar.
Ayahnya? Lapar.
Negara memberi makan satu mulut,
lalu menutup mata pada empat mulut lain.
Ini solusi atau ilusi?
Kalau orang tua diberi akses kerja layak, upah manusiawi, maka satu rumah kenyang.
Dan, jangan pura-pura tuli soal fakta di lapangan.
MBG banyak terbuang.
Nasi sudah dingin.
Ayam keras.
Ikan alot.
Kenapa?
Karena dapur MBG belanja borongan.
Distok berhari-hari.
Protein disimpan lama di kulkas,lalu dipaksa jadi gizi.
Belum lagi yang asal masak.
Rasa hambar.
Anak tak selera.
Ujungnya?
Masuk tong sampah.
Ini bukan gizi.
Ini mubazir berjamaah.
Lalu efek domino lain datang.
Harga yang mencekik orang tua..
Permintaan beberapa kebutuhan dapur melonjak.
Harga beras naik.
Telur naik.
Ikan naik.
Daging ayam naik.
Siapa yang kena?
Orang tua gaji pas-pasan dan miskin.
Anaknya mungkin makan di sekolah.
Tapi, periuk tetap kosong di rumah.
Dengan kata lain:
Demi perut anak, orang tua dicekik.
Demi asupan perut, asupan otak dikorbankan.
Anggaran pendidikan dipotong.
Dana kesehatan dikurangi.
Logika dikubur.
1,2 TRILIUN PER HARI.
Bukan untuk membangun martabat rakyat,
tapi demi kepentingan para elit.
Ini bukan soal gizi.
Ini soal prioritas yang bengkok.
Negara yang serius melawan lapar akan memberi kail, bukan piring sekali pakai.
Dan, negara yang dipenuhi koruptor pasti takut pada rakyat kritis hingga selalu memilih kenyang sesaat bodoh permanen.
(Nang)












