CyberTNI.id | PURBALINGGA, Senin(9/2/2026) — Belajar dari Purbalingga: Kenapa KDMP Bukan Proyek “Buang Duit”
Banyak yang kritis, “Ah, paling nanti nasibnya kayak bandara yang sepi atau proyek mangkrak lainnya.
Bagus di teori, rongsok di lapangan. Saya justru senang dikritik begini. Ini tandanya kita trauma sama proyek yang cuma fokus bangun fisik tapi lupa riset pasar. Tapi, ada beda besar antara bangun Bandara dan bangun KDMP:
Pasar yang Pasti: Orang nggak terbang tiap hari, tapi orang desa makan tiap hari. KDMP itu muter sembako yang pasarnya sudah ada, bukan dicari-cari lagi.
Bukan Saingan, Tapi Pelayan: KDMP hadir jadi “Gudangnya Desa” supaya warung kecil nggak perlu kulakan jauh ke kota. Warung dapet harga grosir, warga tetep belanja di tetangganya.
Aset Orang vs Aset Tanah: Modal utamanya bukan luas lahan, tapi kekompakan warga buat belanja di “rumah sendiri”.
Belajar dari Perjuangan Nyata
Kita juga wajib bersyukur dan belajar dari sejarah koperasi BMT kita. Dulu, mereka pernah sampai “memaksakan diri” pinjam ke rentenir. Bukan buat gaya-gayaan, tapi demi menolong anggota dan masyarakat agar tidak terlilit hutang rentenir yang mencekik.
Waktu itu modal sangat kurang, kantor pun belum memadai dan hanya dikelola oleh 3 orang. Tapi karena niatnya nolong dan sistemnya jalan, lihat hasilnya sekarang: aset sudah milliaran, sudah bisa menggaji sesuai UMR, bahkan menambah banyak karyawan.
Artinya apa? Kalau sistem dikelola dengan hati dan keberpihakan pada warga, keterbatasan modal di awal bukan penghalang. KDMP pun sama, tujuannya bukan bangun monumen, tapi bangun kedaulatan ekonomi desa.
Kepercayaan itu memang nggak bisa diminta, tapi harus dibuktikan lewat proses.
(Nang)












