CyberTNI.id | MADIUN,Selasa (3/3/2026) — Madiun mengalami transformasi pesat dan berkembang meninggalkan para tetangganya (daerah lain) sejak jaman dahulu bukan sebuah cerita.
Hal ini didukung dengan sejarah dan fakta-fakta yang bisa ditemukan sampai sekarang, jika wilayah Madiun memang kaya dengan sumber daya alam yang melimpah.
Kemolekan Madiun mulai dilirik Belanda setelah Perang Jawa (Perang Diponegoro) tahun 1825. Dan lereng Gunung Wilis kala itu disebut menjadi target yang harus dikuasai oleh VOC.
Sejarah mencatat, Madiun berkembang menjadi wilayah yang maju dan strategis sejak zaman pemerintah kolonial Hindia Belanda, terutama setelah ditetapkan sebagai pusat karesidenan pada tahun 1830.
Posisi strategis dan infrastruktur yang dibangun Belanda menjadikan Madiun pusat ekonomi dan transportasi di Jawa Timur bagian barat.
Bahkan, jauh sebelum masuknya Belanda ke Mudiun, daerah yang dulu bernama Purabaya ini sudah sangat kesohor dan jadi incaran kerajaan-kerajaan di tanah Jawa.
Dalam hal pembangunan misalnya, Madiun pada era tahun 1927 jadi salah satu daerah di Indonesia yang memiliki pembangkit listrik skala nasional.
Bukti lainnya adalah banyaknya Loji, atau bangunan peninggalan Belanda yang sampai sekarang masih bisa ditemukan di beberapa tempat wilayah Madiun.
Catata berjudul het elektriciteit- en waterleidingstation bij Madioen yang ditulis D. Huppe (KITLV 115122) terbitan 1925, Madiun adalah salah satu daerah yang memiliki stasiun listrik dan air pertama di Indonesia.
Dalam buku itu disebutkan lokasi stasiun listrik (pembangkit listrik) dengan subject (geographic): Indonesia, Jawa Timur, Madiun, D. Huppe Madioen 21.9.IG).
Merujuk pada catatan itu (D. Huppe), bisa dipastikan stasiun listrik di Madiun itu sekarang adalah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Giringan Madiun.
Sementara, stasiun air sebagai menyuplai kebutuhan pembangkit listrik yang bersumber dari Sungai Catur berada di bagian bawah Wisata Hutan Pinus Nongko Ijo.
Namun, upaya Pemerintah Hindia Belanda membangun Madiun menjadi lebih maju terhenti setelah Belanda menyerah kepada Jepang dalam Perjanjian Kalijati, 8 Maret 1942.
Sejak itu pabrik-pabrik dan perusahaan termasuk sejumlah peninggalan Belanda di Madiun dikuasai atau diambil alih oleh Jepang, sebelum akhirnya jatuh ke tangan para pekerja pribumi.
(Nang)












