Operasi Tangkap Tangan (OTT) Dianggap Kurang Sopan, PLT Bupati Cilacap Usul KPK Pasang Lampu Sein Sebelum Menangkap

CyberTNI.id|​CILACAP,Rabu (1/4/2026) — Kabar gembira bagi para peminat profesi “pengambil uang rakyat” di Jawa Tengah. Baru-baru ini, dalam sebuah acara bersama KPK, PLT Bupati Cilacap memberikan sebuah perspektif filosofis yang sangat mencerahkan terkait pemberantasan korupsi.

Menurutnya, KPK selama ini bertindak seperti polisi yang bersembunyi di ujung jalur busway: diam-diam menunggu, lalu tiba-tiba menilang.

​”Kalau pencegahan kan harusnya di depan itu sudah… melakukan peringatan,” ujar sang pejabat dengan nada penuh harap, seolah-olah korupsi adalah sekadar salah masuk jalur saat berkendara.

​Logika “Saya Kan Tidak Tahu”
​Beliau juga menambahkan pembelaan yang menyentuh hati tentang keterbatasan pengetahuan para kepala daerah. Ternyata, menjadi pemimpin daerah tidak otomatis membuat seseorang paham mana yang hak dan mana yang “khilaf” masuk kantong pribadi. Kadang, niatnya baik untuk membangun, tapi karena “kurang tahu,” eh, tahu-tahu kena OTT.

​Logika ini bak angin segar bagi masyarakat: Jika kepala daerah saja boleh mengaku tidak tahu aturan anggaran, maka warga Cilacap ke depannya mungkin bisa menggunakan alasan yang sama saat telat bayar pajak atau ditilang karena tidak bawa SIM. “Maaf Pak Polisi, pengetahuan saya terbatas, harusnya diingatkan dulu sebelum saya keluar rumah, jangan langsung ditilang neng pengadilan!”

​Netizen: “Maling Ayam Saja Ditegur Dulu, Baru Digebuki”

​Namun, tanggapan hangat dari pejabat tersebut rupanya mendapat “sambutan meriah” dari warga net yang budiman. Di berbagai platform media sosial, warga mulai memberikan tutorial gratis tentang moral dasar yang sepertinya terlewatkan saat masa sekolah para pejabat.

​Seorang warga dengan akun Darmajati berkomentar pedas, “Ide konyol. Pejabat itu harusnya paham tupoksi. Kalau berargumen seperti itu, artinya tidak layak jadi pejabat karena kelihatan bodohnya.” Ada juga yang mencoba menggunakan analogi sederhana untuk mengimbangi logika “jalur busway” sang bupati. “Ibarat ada maling ayam, tapi ditegur dulu/di-warning,” tulis akun Bagus Pambudi. Bayangkan betapa indahnya dunia jika maling jemuran harus dikirimi surat cinta peringatan dulu sebelum diteriaki warga.

​Transformasi Penindakan: Dari Gari ke Hati ke Hati?
​Warga lain, Indri Ayu, tampak gagal paham dengan konsep “kurang tahu” yang diusung. Menurutnya, aturan dan contoh pejabat yang masuk penjara sudah lebih dari cukup sebagai peringatan. “Gitu caranya ya semua akan korupsi… paling cuma ditegur dulu kalau ketahuan. Kalau nggak ketahuan ya lanjut!”

​Hingga berita ini diturunkan, warga Cilacap—terutama para guru yang gajinya masih carry over sejak 2025 masih menunggu apakah “transformasi pencegahan” ini juga berlaku untuk urusan perut mereka. Karena kalau urusan hak rakyat, biasanya pemerintah sangat cepat memberi “peringatan” untuk bersabar, tapi kalau urusan indikasi korupsi, mereka minta “peringatan” agar tidak tertangkap.

​(Nang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *