Kraton Surakarta Gelar Wilujengan Kiblat Sekawan, Labuhan Parangkusumo Penuh Makna Spiritual

CyberTNI.id|YOGYAKARTA,Minggu (5/4/2026) — Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar upacara adat sakral, Wilujengan dan Labuhan Parangkusumo, sebagai bagian dari rangkaian tradisi Wilujengan Kiblat Sekawan,

Atas dhawuh atau titah SISKS Pakoe Boewono XIII, upacara yang sarat makna ini digelar dengan penuh khidmat dan kesakralan.

Prosesi dipimpin langsung oleh Prameswari Dalem Kraton Surakarta Hadiningrat, GKR Pakoe Boewono, didampingi kedua putri, GKR Timoer Rumbai Kusuma Dewayani dan GRAy Devi Lelyana Dewi.

Tampak pula sejumlah keluarga, Sentana Dalem, dan Abdi Dalem yang turut mengikuti jalannya ritual dengan penuh takzim.

Acara dimulai dengan wilujengan atau doa bersama di Pendopo Kompleks Cepuri Parangkusumo, dilanjutkan dengan kirab sesaji menuju bibir pantai.

Puncak prosesi ditandai dengan larungan sesaji ke Laut Selatan yang dipimpin langsung oleh GKR Pakoe Boewono.

melarung sesaji dipercaya sebagai bentuk penghormatan kepada alam dan leluhur, sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

“Satu-satunya tujuan di upacara labuhan adalah mohon perlindungan dan petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,” ujar KGPH Adipati Drs. Dipokusumo, adik dari SISKS Pakoe Boewono XIII.

Lebih jauh, Gusti Dipo menegaskan bahwa Wilujengan Kiblat Sekawan memiliki makna mendalam bagi masyarakat Jawa.

“Labuhan ini menjadi pengingat bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang hidup berdampingan dengan sesama dan dengan alam. Kita hidup di lingkungan yang sebagian besar adalah laut, yang juga perlu kita hormati dan jaga.

Dalam keyakinan masyarakat Kraton Surakarta, Laut Selatan diyakini sebagai wilayah kekuasaan Kanjeng Ratu Kencono Sari, sosok yang dihormati dalam tradisi Labuhan.

Meski ada kepercayaan akan penguasa alam, Gusti Dipo menekankan bahwa inti dari prosesi ini tetaplah doa kepada Tuhan dan penghormatan pada leluhur.

Sebagai informasi, Wilujengan Kiblat Sekawan merupakan rangkaian tradisi Kraton Kasunanan Surakarta yang digelar di empat penjuru:

  • Gunung Lawu (arah timur)
  • Pantai Parangkusumo (arah selatan)
  • Gunung Merapi (arah barat)
  • Alas Krendowahono (arah utara)

Keempat lokasi ini diyakini sebagai penyangga spiritual berdirinya Kraton Surakarta dan menjadi bagian tak terpisahkan dalam pelestarian budaya leluhur.

Tradisi ini tidak hanya menjadi ritual adat, tetapi juga menjadi jembatan kearifan lokal dan pengingat bagi generasi muda untuk tetap mencintai dan melestarikan budaya bangsa.

(Nang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *