CyberTNI.id | JOMBANG – Suasana penuh khidmat dan sarat pesan toleransi menyelimuti kawasan Pondok Pesantren Tebuireng, Selasa (19/5/2026). Puluhan biksu peserta kegiatan “Indonesia Walk for Peace 2026” tiba di pesantren legendaris yang didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari tersebut setelah menempuh perjalanan panjang lintas daerah sebagai bagian dari misi spiritual dan kampanye perdamaian dunia.
Kedatangan para biksu disambut hangat oleh pengurus pesantren, santri, tokoh masyarakat, hingga warga sekitar yang sejak siang telah memadati area kompleks Tebuireng. Nuansa persaudaraan lintas agama tampak begitu kuat ketika para biksu berjalan memasuki kawasan pesantren dengan penuh ketenangan, diiringi senyum dan salam penghormatan dari masyarakat.
Momentum tersebut menjadi simbol kuat bahwa Indonesia masih berdiri kokoh di atas nilai toleransi, persaudaraan, dan kebhinekaan. Di tengah situasi dunia yang masih dibayangi konflik kemanusiaan, peperangan, dan polarisasi sosial, perjalanan damai para biksu itu menjadi pesan moral bahwa perdamaian harus terus dirawat oleh seluruh elemen bangsa tanpa memandang suku, agama, maupun golongan.
Setibanya di kompleks makam Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur, para peserta “Walk for Peace” menggelar doa bersama secara khusyuk. Mereka memanjatkan doa untuk almarhum Gus Dur yang selama hidupnya dikenal sebagai tokoh pluralisme, pejuang kemanusiaan, serta simbol toleransi lintas agama di Indonesia.
Bagi para peserta, Gus Dur bukan sekadar tokoh bangsa, melainkan figur pemersatu yang meninggalkan warisan besar tentang pentingnya menghormati perbedaan. Nilai-nilai itulah yang dianggap sejalan dengan semangat perjalanan damai yang mereka lakukan tahun ini.
Beberapa biksu terlihat menundukkan kepala dalam keheningan, sementara rombongan lainnya melakukan meditasi singkat di area makam. Momen tersebut menarik perhatian para peziarah yang turut hadir. Banyak warga mengabadikan peristiwa langka itu sebagai simbol harmoni antarumat beragama yang hidup di Indonesia.P

Pengurus Tebuireng menyampaikan apresiasi atas kunjungan para biksu dan menilai kegiatan tersebut menjadi contoh nyata bahwa dialog dan persaudaraan lintas iman dapat diwujudkan dalam tindakan konkret, bukan sekadar slogan.
“Ini adalah pesan kemanusiaan yang sangat penting. Tebuireng terbuka bagi siapa saja yang datang membawa nilai perdamaian. Gus Dur mengajarkan bahwa kemanusiaan harus berada di atas segala perbedaan,” ujar salah satu pengurus pesantren.
Perjalanan “Indonesia Walk for Peace 2026” sendiri diketahui menjadi agenda tahunan yang diikuti para biksu dari berbagai daerah di Indonesia. Dengan berjalan kaki menempuh ratusan kilometer, mereka membawa misi spiritual sekaligus mengajak masyarakat menanamkan hidup damai, sederhana, dan penuh welas asih.
Di sepanjang perjalanan menuju Jombang, para biksu mendapat sambutan hangat dari masyarakat di berbagai daerah. Warga kerap memberikan air minum, makanan, hingga dukungan moral sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan mereka menyuarakan perdamaian.
Kehadiran rombongan di Tebuireng juga dinilai memiliki makna simbolik yang mendalam. Pesantren yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat lahirnya tokoh-tokoh besar Nahdlatul Ulama itu menjadi titik pertemuan nilai spiritual lintas agama yang sama-sama mengajarkan kasih sayang dan persaudaraan.
Tidak sedikit santri yang mengaku terharu melihat langsung para biksu datang dan berdoa di makam Gus Dur. Menurut mereka, peristiwa itu menjadi pelajaran penting bahwa perbedaan keyakinan bukan penghalang untuk saling menghormati dan menjaga persatuan bangsa.

Di tengah derasnya arus ujaran kebencian dan konflik sosial yang kerap muncul di media sosial, kegiatan seperti “Indonesia Walk for Peace 2026” dianggap menjadi oase yang menyejukkan. Aksi berjalan kaki lintas daerah itu bukan hanya perjalanan fisik, melainkan perjalanan moral untuk mengingatkan masyarakat bahwa perdamaian harus diperjuangkan bersama.
Kegiatan doa bersama di Tebuireng ditutup dengan suasana penuh keakraban. Para biksu dan pengurus pesantren saling bertukar salam serta pesan perdamaian sebelum rombongan kembali melanjutkan perjalanan menuju titik berikutnya.
Peristiwa tersebut sekali lagi memperlihatkan wajah Indonesia yang sesungguhnya: bangsa besar yang mampu hidup berdampingan dalam keberagaman, serta terus menjaga warisan toleransi yang telah diperjuangkan para pendiri bangsa dan tokoh-tokoh kemanusiaan seperti Gus Dur.
Moch Imron












