ASET NASIONAL KEKAYAAN ALAM EMAS FREEPORT KE DANANTARA 2026 DEMI KEMAKMURAN RAKYAT JANGKA PANJANG

CyberTNI.id |PAPUA, Sabtu (27/12/2025) – Mimpi memeluk gunung emas atau menggali Kuburan Fiskal sendiri.

Di atas kertas, skenario ini tampak seperti mimpi para nasionalis ekonomi: kekayaan alam Indonesia yang selama puluhan tahun “mengalir” ke luar negeri akhirnya pulang kandang.

Mulai tahun ini, aliran dividen raksasa dari PT Freeport Indonesia tak lagi sekadar singgah di kas negara, melainkan diserap langsung ke dalam Danantara Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara.

sebagai induk holding tambang, Danantara kini menggenggam kendali atas apa yang kerap disebut sebagai jantung ekonomi Papua. Narasi resmi terdengar heroik: konsolidasi aset strategis demi kemakmuran jangka panjang.

Namun, jika kita menyingkirkan pidato pejabat yang berapi-api dan grafik saham yang hijau menyilaukan, ada bom waktu yang berdetak pelan di balik euforia ini.

Ilusi “Super-Holding”

Masuknya Freeport ke dalam Danantara bukan sekadar soal perpindahan pembukuan. Ini adalah sentralisasi kekuasaan keuangan terbesar dalam sejarah republik.

Bayangkan sebuah waduk raksasa. Sebelumnya, aliran uang Freeport menyebar ke berbagai pos anggaran negara. Kini, semuanya dikumpulkan dalam satu kolam besar bernama Danantara. Tujuannya terdengar mulia: agar dana tersebut dapat diputar kembali di-leverage untuk membiayai proyek-proyek strategis tanpa bergantung pada utang luar negeri.

Di sinilah letak hipnotisnya. Publik diajak percaya bahwa dengan mengumpulkan semua telur emas dalam satu keranjang, negara otomatis menjadi lebih kaya. Padahal sejarah keuangan global justru mengajarkan pelajaran pahit: ketika uang terkonsentrasi di satu titik dengan pengawasan yang lemah, ia berubah menjadi magnet bagi predator.

Kotak Pandora 2026

Di balik gemerlap angka aset kelolaan yang dipamerkan Danantara, tersimpan setidaknya tiga risiko besar yang jarang dibicarakan secara terbuka.

1. Jebakan “Sapi Perah” di Musim Kering

Ironisnya, Freeport masuk ke pelukan Danantara justru ketika “susunya” mulai seret. Tahun 2026 diproyeksikan sebagai fase transisi berat: tantangan teknis penambangan bawah tanah, ditambah dampak lanjutan insiden longsor sebelumnya. Produksi emas dan tembaga diperkirakan menurun.

Risikonya jelas. Danantara membutuhkan arus kas besar untuk bermanuver. Jika dividen Freeport tak sesuai ekspektasi, godaan paling berbahaya adalah berutang dengan menjaminkan aset Freeport itu sendiri.
Ini bukan lagi strategi menabung ini praktik menggadaikan masa depan dengan jaminan emas yang belum digali.

2. Ruang Gelap Tanpa Pengawasan Keras

Danantara dirancang sebagai lembaga sui generis: unik, otonom, bergerak dengan logika korporasi ala sovereign wealth fund, bukan birokrasi negara yang kaku.

Masalahnya, fleksibilitas ini adalah pedang bermata dua. Tanpa pengawasan setara audit reguler yang ketat dan pengawalan antikorupsi yang nyata pada setiap keputusan investasi, Danantara berisiko menjelma menjadi ruang gelap pengelolaan dana publik.

Pertanyaannya sederhana, namun krusial: siapa yang menjamin dividen Freeport tidak diputar ke proyek-proyek mercusuar yang merugi secara ekonomi, namun menguntungkan segelintir elite?

3. Konsentrasi Risiko: Terlalu Besar untuk Gagal

Ketika Freeport berdiri sebagai entitas terpisah, guncangan operasional hanya berdampak pada satu sektor. Namun, saat ia menjadi pilar utama Danantara, setiap gangguan di Grasberg akan beresonansi hingga ke pusat fiskal nasional.

Jika Danantara salah langkah misalnya menanam dana besar pada sektor yang sedang jenuh, seperti proyek baterai kendaraan listrik yang kelebihan pasokan kerugiannya bukan sekadar angka di laporan keuangan.
Yang dipertaruhkan adalah dana abadi rakyat.

Epilog: Kedaulatan atau Perjudian Nasional.

Tahun 2026 bukanlah akhir dari perjuangan merebut Freeport. Ia justru menandai awal dari ujian yang sesungguhnya.

Kita telah berhasil mengambil alih kepemilikan mayoritas. Namun pertanyaan yang jauh lebih penting kini mengemuka:
Apakah emas Papua benar-benar akan dikelola untuk kesejahteraan rakyat, atau sekadar berpindah tangan dari kapital asing ke segelintir oligarki lokal yang berlindung di balik logo baru bernama Danantara.

Emas Papua adalah amanah.
Jangan sampai ia dikelola dengan tangan kotor.
(Nang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *