Kisah tongkat Pangeran Diponegoro Yang 180 Tahun Dikuasai Belanda, Dikaitkan Dengan Simbol Kedatangan Ratu Adil

CyberTNI.id | MAGELANG,Jumat (12/12/2025) — Setelah sekitar 180an tahun dikuasi keluarga Belanda keturunan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jean Chretien Baud, tongkat Pangeran Diponegoro akhirnya dikembalikan ke Indonesia pada 5 Februari 2015 lalu. Secara simbolis tongkat itu diserahkan kepada Anies Baswedan yang ketika itu adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayan.

Prosesi penyerahan itu dilakukan di Galeri Nasional ketika pembukaan pameran seni rupa “Aku Diponegoro”.

Tongkat pusaka iktu punya panjang 153 sentimeter. Ia terbuat dari kayu mahoni.

Apa cerita yang menarik terkait tongkat Pangeran Diponegoro itu?

Peter Carey, sejarawan Inggris yang memang sangat fokus terhadap kajian-kajian Diponegoro, bilang, tongkat tersebut diperoleh Pangeran dari warga pada sekitar 1815. Artinya, tongkat itu diperoleh Pangeran Diponegoro sebelum Perang Jawa yang bikin Belanda senewen itu.

Tongkat itu lantas digunakan semasa menjalani ziarah di daerah Jawa bagian selatan. “Penyerahan (tongkat itu ke Indonesia) dirahasiakan sesuai permintaan keluarga yang menyimpan pusaka tongkat Diponegoro tersebut di Belanda,” kata Peter.

Michiel Baud mewakili keluarga besar keturunan JC Baud menyerahkan pusaka tongkat ziarah Diponegoro kepada Anies Baswedan. JC Baud menerima tongkat ziarah Diponegoro, yang juga disebut tongkat Kanjeng Kiai Tjokro, dari Pangeran Adipati Notoprojo.

Notoprojo sendiri adalah cucu komandan perempuan pasukan Diponegoro, Nyi Ageng Serang. Notoprojo dikenal sebagai sekutu politik bagi Hindia Belanda.

Dia pula yang membujuk salah satu panglima pasukan Diponegoro, Ali Basah Sentot Prawirodirjo, untuk menyerahkan diri kepada pasukan Hindia Belanda pada 16 Oktober 1829.

Tongkat Kanjeng Kiai Tjokro dipersembahkan Notoprojo kepada JC Baud saat inspeksi pertama di Jawa Tengah pada musim kemarau tahun 1834. Kemungkinan Notoprojo berusaha mengambil hati penguasa kolonial Hindia Belanda.

Sejak 1834, Baud dan keturunannya di Belanda merawat tongkat ziarah Diponegoro itu sampai Kamis malam lalu dipulangkan kembali ke Tanah Air.

Berdasarkan penelusuran Peter Carey, Tongkat Kanjeng Kiai Tjokro menjadi artefak spiritual sangat penting bagi Diponegoro. Terutama dari simbol cakra di ujung atas tongkat sepanjang 153 sentimeter itu.

Berdasarkan mitologi Jawa, cakra sering digambarkan digenggam Dewa Wisnu pada inkarnasinya yang ketujuh sebagai penguasa dunia. ”Sesuai mitologi Jawa, tongkat tersebut dikaitkan dengan kedatangan Sang Ratu Adil atau Erucakra,” kata Peter.

Diponegoro kemudian menganggap perjuangannya sebagai perang suci untuk mengembalikan tatanan moral ilahi demi terjaminnya kesejahteraan rakyat Jawa. Perang juga dianggap sebagai pemulihan keseimbangan masyarakat.

”Panji pertempuran Diponegoro menggunakan simbol cakra dengan panah yang menyilang,” kata Peter.

Kurator dari Rijks Museum Belanda, Harm Stevens, juga meneliti tongkat itu selama beberapa bulan terakhir. ”Saya telah mencocokkan dengan petunjuk-petunjuk yang ada. Benar kalau tongkat itu milik Pangeran Diponegoro,” katanya.

Tak hanya tongkat Pangeran Diponeogor, dalam pameran tersebut juga ada benda-benda bersejarah Pangeran Diponegoro yang lain. Sebut saja tombak Rondhan dan pelana kuda, yang sebelumnya juga berada di Belanda.

Artefak-artefak itu diperoleh ketika₩ pasukan gerak cepat Hindia Belanda, yang dipimpin Mayor AV Michiels, menyergap Diponegoro pada 11 November 1829. Dalam sergapan itu, Diponegoro berhasil meloloskan diri.

Tapi tombak Rondhan, peti pakaian, kuda, dan barang berharga lain tidak dibawa serta. Pasukan penjajah merampas dan menyerahkan artefak berharga tersebut kepada Raja Belanda Willem I (yang bertakhta tahun 1813-1840).

Pada 1978, Ratu Belanda Juliana mengembalikan tombak Rondhan dan pelana kuda itu ke Indonesia. Pelana kuda itu menyimpan kisah Diponegoro sebagai penunggang kuda hebat.

Dia memiliki istal luas di kediamannya di Tegalrejo. Kuda hitam dengan kaki putih bernama Kiai Gentayu dianggap sebagai pusaka hidup Sang Pangeran.

Sebenarnya Diponegoro juga mewariskan jubah Perang Sabil. Sayangnya, jubah berbahan sutra shantung dan cinde berukuran 200 X 100 sentimeter tersebut tidak ikut dipamerkan.

Benda tersebut tetap berada di Museum Bakorwil II Magelang.
(Nang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *