Wartawan Dihadang, HP Hendak Dirampas Saat Rekam Dugaan Sabung Ayam Juga Judi Dadu Di Desa Kedokanbunder, Hukum Dipermainkan Di Depan Mata

CyberTNI.id | INDRAMAYU – Aksi arogansi terhadap kerja jurnalistik kembali dipertontonkan secara vulgar di Desa Kedokanbunder, Kecamatan Kedokanbunder, Kabupaten Indramayu. Seorang wartawan Indramayu yang hendak merekam dugaan praktik sabung ayam justru diadang, ditekan, bahkan telepon genggamnya disebut hendak dirampas.

Peristiwa ini bukan sekadar penghalangan biasa. Ini bentuk intimidasi terang-terangan terhadap kebebasan pers. Saat kamera mulai merekam aktivitas yang diduga sebagai arena sabung ayam, sejumlah orang langsung bereaksi keras. Wartawan distop, dipaksa berhenti merekam, dan situasi berubah tegang dalam hitungan detik.

Pertanyaannya sederhana: jika tidak ada yang dilanggar, kenapa harus panik? Kenapa harus mencoba merampas alat dokumentasi? Reaksi berlebihan itu justru memperkuat dugaan bahwa ada aktivitas yang tak ingin tersorot publik.

Sabung ayam yang identik dengan praktik perjudian jelas bukan perkara sepele. Jika benar terjadi, ini adalah pelanggaran hukum. Namun yang lebih memprihatinkan, upaya membungkam wartawan seolah menunjukkan keberanian menantang hukum secara terbuka. Seakan-akan ada rasa kebal, ada keyakinan bahwa tak akan tersentuh.

Upaya perampasan HP bukan hanya tindakan premanisme, tapi juga serangan langsung terhadap fungsi kontrol sosial pers. Wartawan bekerja untuk kepentingan publik. Menghalangi, mengintimidasi, apalagi mencoba merampas alat kerja adalah tindakan yang tak bisa ditoleransi.

Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi penegakan hukum di wilayah tersebut. Dugaan praktik sabung ayam berjalan, wartawan diintimidasi, dan semuanya terjadi di ruang terbuka. Jika dibiarkan, ini menjadi preseden buruk bahwa siapa pun bisa membungkam informasi dengan cara kasar.

Aparat penegak hukum tak bisa tinggal diam. Dua dugaan pelanggaran harus diusut: praktik sabung ayam dan intimidasi terhadap wartawan. Jangan sampai muncul kesan bahwa hukum hanya tajam ke bawah, namun tumpul ketika berhadapan dengan praktik yang jelas-jelas meresahkan.

Ketika wartawan diadang dan alat rekam hendak dirampas, publik pantas curiga. Ini bukan sekadar insiden kecil. Ini sinyal bahwa ada pihak yang merasa terusik oleh sorotan kamera—dan itu patut dipertanyakan secara serius.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *