KPK Bongkar Skema Proyek Bupati Pekalongan: Koleksi 26 Properti Hingga Saldo Berlimpah, Hartanya Bikin Sorotan

CyberTNI.id|PEKALONGAN,Kamis (5/3/2026) —
Pekalongan. – Setelah diciduk KPK saat asyik charge mobil listrik, kini giliran “isi dompet” Bupati Pekalongan, Fadia Arafiq, yang jadi sorotan. Publik pun dibuat melongo melihat daftar aset sang bupati yang baru saja ditetapkan sebagai tersangka ini.

Berdasarkan data LHKPN teranyar yang dirilis Rabu (4/3/2026), Fadia tercatat punya kekayaan bersih mencapai Rp85,6 Miliar (setelah dipotong utang). Angka yang sangat fantastis untuk seorang pejabat daerah!

Juragan Tanah: Dari Pekalongan Sampai Bali!

Aset terbesar Fadia ada di sektor properti. Bayangkan saja, beliau punya 26 unit tanah dan bangunan yang tersebar di berbagai kota bergengsi. Total nilainya? Rp74,2 Miliar!

Berikut beberapa “koleksi” menterengnya:

Pekalongan: Mendominasi dengan belasan bidang tanah, termasuk lahan seluas 7.330 m2.

Bogor: Punya sekitar 8 aset, dari tanah kosong sampai bangunan mewah senilai Rp10 Miliar.

Jakarta & Sekitarnya: Menyebar di Jakarta Timur, Jakarta Pusat, hingga Depok.

Bali: Nggak ketinggalan, ada tanah di Kabupaten Badung senilai Rp3,5 Miliar.

Isi Garasi & Kas Tunai

Meski hartanya puluhan miliar, isi garasi yang dilaporkan tergolong “minimalis” untuk ukuran bupati:

Toyota Alphard (2018): Rp980 Juta.
Hyundai Minibus (2013): Rp200 Juta.

Namun, jangan remehkan isi rekeningnya. Fadia melaporkan Kas dan Setara Kas sebesar Rp10,8 Miliar. Plus, harta bergerak lainnya (perhiasan atau barang berharga) senilai Rp3,02 Miliar.
Grafik “Roller Coaster” Kekayaan

Nah Lho! Ada yang aneh kalau kita intip riwayat kekayaannya dalam empat tahun terakhir. Angkanya naik-turun bak roller coaster yang bikin pusing:
Tahun Laporan Total Kekayaan
2020 Rp27 Miliar
2021 (Awal menjabat) Rp134 Miliar (Naik drastis!)
2022 Rp90 Miliar
2023 Rp124 Miliar
2024 Rp86 Miliar

Lonjakan dari Rp27 Miliar ke Rp134 Miliar hanya dalam waktu setahun (2020-2021) tentu mengundang tanda tanya besar. Apalagi kini KPK mengendus adanya skema proyek “dari dia, oleh dia, untuk dia” yang melibatkan perusahaan keluarganya.

Catatan Tajam:
Meskipun di laporan terakhir (2024) angkanya “turun” ke Rp86 Miliar, tetap saja nilai ini tergolong kelas berat. Kini, semua aset tersebut bakal dipelototi KPK untuk melihat mana yang murni hasil keringat dan mana yang hasil “proyek keluarga”.

(Nang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *