Paket Komplit Sekolah Angkringan Daerah Ngerangan Menjadi Pengembangan Desa Wisata

CyberTNI.id | KLATEN,- Rabu (8/10/2025) —Beragam paket wisata edukasi yang ditawarkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten Provinsi jawa tengah menarik perhatian pengunjung dari berbagai kalangan.

Salah satunya yang cukup diminati adalah sekolah angkringan, yakni pelatihan lengkap tentang cara berjualan angkringan atau HIK.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Ngerangan, Suwarna, saat berbincang dengan Espos, pekan lalu, mengungkapkan mereka yang mengikuti sekolah angkringan selama beberapa hari berada di Ngerangan belajar membuka usaha angkringan ala Bayat mulai dari nol.

“Untuk sekolah angkringan ini ada pilihan empat hari serta lima hari. Kalau paket komplet itu nanti juga dapat alat sehingga pulang sudah siap jualan angkringan. Kami ajarkan secara detail termasuk manajemen angkringan hingga pemilihan lokasi jualan,” kata Suwarna.

Untuk paket diklat sekolah angkringan selama empat hari, peserta diajari cara mengelola warung angkringan mulai dari nol.

Selain materi hingga praktik, peserta mendapatkan fasilitas menginap, makan hingga kulineran selama empat hari mengikuti sekolah angkringan.

Tarif yang diberlakukan yakni Rp1 juta.

Selain itu, pengelola juga menawarkan paket diklat sekolah angkringan komplet senilai Rp4 juta per orang dengan tambahan fasilitas mendapatkan gerobak dan peralatan untuk membuka warung angkringan.

Artinya, pulang dari sekolah, peserta bisa langsung praktik membuka warung angkringan.

Suwarna mengungkapkan mereka yang berdatangan untuk berwisata edukasi berasal dari berbagai kalangan.

Seperti belum lama ini, ada rombongan akademisi dari salah satu perguruan tinggi yang datang untuk mempelajari terkait usaha angkringan di desa wisata Ngerangan, Bayat, Klaten.

Tak hanya sekali, rombongan dari perguruan tinggi itu datang dua kali untuk belajar tentang racikan teh angkringan.

Ada pula yang ikut sekolah angkringan komplet.

Pengelola menjamin mereka yang mengikuti sekolah itu bisa jualan angkringan ala Bayat.

“Semua ikut paket yang dapat alat. Mereka sudah jualan juga dan kini terus berkomunikasi melalui grup WA,” kata Suwarna.

Lebih lanjut, Suwarna mengungkapkan cara meracik teh angkringan yang dikenal dengan mengombinasikan sejumlah merek tak bisa asal-asalan dilakukan.

Racikan dilakukan dengan menyesuaikan lidah warga lokal di mana warung tersebut buka.

Hal itu pula yang diajarkan ketika ada pengunjung ingin belajar cara meracik teh angkringan.

“Warga Ngerangan yang menjalankan usaha angkringan sudah menyebar di berbagai daerah. Jadi dari setiap kota itu, cara meracik tehnya berbeda. Ada teh yang disukai di tingkat lokal atau kearifan lokal. Itu disampaikan secara detail saat pelatihan digelar,” kata Suwarna.

Pilihan Paket Wisata Lainnya

Selain sekolah angkringan dan cara meracik teh, ada berbagai paket wisata lainnya di Ngerangan, Bayat, yang bisa diakses oleh masyarakat, yakni:

  • Paket edukasi UMKM dengan pilihan sekitar 20 UMKM. Ada UMKM dawet, tiwul, jahe dan lain-lain. Tarifnya Rp25.000 per orang dengan minimal peserta 15 orang.
  • Paket edukasi dolanan tradisional dengan berbagai pilihan, mulai dari bahan menggunakan janur, kayu, hingga bambu. Tarif yang ditawarkan untuk setiap item paket edukasi dolanan yakni Rp25.000 dengan minimal peserta 20 orang. Selain itu, peserta bisa menikmati dawet Aloevera dengan tambahan biaya Rp5.000.
  • Paket wisata homestay tematik pertanian serta peternakan. Pengelola menawarkan paket itu Rp150.000 per orang untuk satu hari satu malam serta free makanan dengan minimal peserta empat orang.

Suwarna mengungkapkan bergulirnya paket wisata unggulan angkringan serta pekat lainnya menjadi bagian dari pengembangan desa wisata angkringan.

Pihaknya berharap Ngerangan sebagai cikal bakal angkringan bisa semakin kenal secara luas.

Hingga saat ini, mayoritas warga Ngerangan memiliki mata pencaharian utama sebagai pedagang angkringan.

Mereka menyebar ke berbagai daerah di Indonesia.

“Dari 1.500an laki-laki dewasa di desa kami, itu 1.000an orang pedagang angkringan. Bisa jadi desa kami memang satu-satunya desa yang 70 persen warganya berdagang angkringan,(Nang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *