CyberTNI.id|BUTON,Kamis (7/5/2026) — Bayangkan memiliki sumber daya berlimpah di halaman sendiri, tetapi justru memilih membeli kebutuhan serupa dari luar negeri. Gambaran itu dinilai mencerminkan kondisi aspal alam yang merupakan material penting dalam pembangunan infrastruktur jalan di Indonesia saat ini.
Di balik pembangunan ribuan kilometer jalan tol dan jalan nasional yang terus digenjot pemerintah, tersimpan ironi besar.
Bahan utama untuk melapisi jalan-jalan tersebut sebagian besar masih bergantung pada aspal minyak (asmin) impor, meski Indonesia memiliki cadangan aspal alam terbesar di dunia.
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengungkapkan, sekitar 80 persen kebutuhan aspal nasional hingga kini masih dipenuhi dari aspal minyak impor. Ketergantungan tersebut dinilai menjadi persoalan serius, terutama di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian.
Konflik geopolitik, termasuk di kawasan Timur Tengah, berdampak langsung pada lonjakan harga energi dunia yang berimbas pada biaya pembangunan infrastruktur.
“Ketergantungan adalah sebuah risiko. Dalam pembangunan nasional, risiko harus kita kelola dengan sangat disiplin agar cost tidak meledak,” ucap Dody .
Ketika harga minyak dunia naik, biaya pembangunan jalan otomatis ikut terdorong. Dampaknya, anggaran negara harus menanggung beban lebih besar demi memenuhi kebutuhan proyek infrastruktur.
Padahal, Indonesia sejatinya memiliki alternatif strategis yang tersedia di dalam negeri, yakni Aspal Buton atau Asbuton.
(Nang)












