CyberTNI.id|JAKARTA,Sabtu (18/4/2026) — Bayangkan organisasi dengan 130 rumah sakit dan lebih dari 300 klinik yang tersebar di seluruh Indonesia, tapi setiap botol infus yang menetes ke pembuluh darah pasiennya masih harus dipasok dari pabrik orang lain. Itulah ironi yang selama ini dihadapi Muhammadiyah, dan kini mereka memutuskan untuk mengakhirinya.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah resmi meluncurkan entitas bisnis baru, PT Suryavena Farma Indonesia, di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta. Peluncuran ini bukan sekadar formalitas. Ini adalah deklarasi bahwa Muhammadiyah siap masuk ke jantung industri farmasi nasional.
Proyek ini ditargetkan menelan investasi antara Rp700 hingga Rp800 miliar. Dana sebesar itu akan digunakan untuk membangun pabrik cairan infus mandiri di atas lahan yang sudah lama menunggu.
Direktur Utama PT Suryavena Farma Indonesia sekaligus Wakil Ketua Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah, Tatat Rahmita Utami, berbicara lugas soal masalah yang mendorong langkah besar ini. “Selama ini Muhammadiyah kuat di sektor kesehatan dan pendidikan. Namun, untuk suplai alat kesehatan dan obat-obatan, masih bergantung pada pihak luar. Karena masih menumpang di pabrik lain, ada keterbatasan suplai. Padahal kebutuhan di internal Muhammadiyah cukup besar,” katanya.
Sejak Maret 2024, merek Suryavena sebenarnya sudah beredar, namun diproduksi melalui skema maklon dengan PT Satoria Aneka Industri di Pasuruan. Skema titip produksi seperti ini memang sering jadi solusi sementara, tapi tidak bisa diandalkan untuk jangka panjang. Kapasitas terbatas, pasokan tidak konsisten.
Pabrik mandiri itu rencananya akan berdiri di Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Lokasi ini dipilih karena merupakan sentra industri cairan infus nasional dan telah lolos uji kelayakan, termasuk kualitas air yang memenuhi standar produksi farmasi steril. Lahan yang tersedia sekitar 14 hektare dan sudah dinyatakan memenuhi syarat.
Soal kapasitas, angkanya tidak main-main. Produksi ditargetkan mencapai 15 juta botol per tahun, dengan sekitar 13 juta botol untuk memenuhi kebutuhan internal jaringan Muhammadiyah-Aisyiyah, sementara sisanya akan dipasarkan ke publik. Bahkan sebelum pabrik berdiri pun, permintaan dari luar jaringan Muhammadiyah sendiri sudah cukup besar, karena harga Suryavena kompetitif dengan kualitas yang baik.
Studi kelayakan proyek ini melibatkan akademisi dari Institut Teknologi Bandung dan konsultan keuangan independen, sementara pendanaan akan bersumber dari perbankan dan investor.
Target operasional pabrik ditetapkan pada akhir 2027 atau awal 2028. Jika terealisasi sesuai rencana, ini bukan hanya soal pasokan infus yang lebih stabil. Ini adalah momen Muhammadiyah benar-benar berdiri di sektor hulu kesehatan, tidak lagi sekadar menjadi pengguna, tapi menjadi produsen.
(Nang)












