crossorigin="anonymous">

INOVASI DESA SIBANG KAJA: OLAH SAMPAH PLASTIK JADI BBM ALTERNATIF RP7.000 PER LITER DENGAN TEKNOLOGI PIROLISIS

CyberTNI.id|BADUNG,Kamis (25/6/2026) — Didukung KLHK, Program Ini Jadi Model Pengelolaan Sampah Berbasis Ekonomi Sirkular
Di tengah tantangan global tumpukan limbah anorganik, warga Desa Sibang Kaja, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung berhasil membuktikan bahwa sampah plastik dapat diubah menjadi berkah ekonomi. Melalui teknologi pirolisis, warga setempat kini mampu mengolah sampah plastik menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) alternatif dengan nilai ekonomis hanya Rp7.000 per liter.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Badung menyampaikan, inovasi ini merupakan wujud nyata implementasi UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan strategi percepatan zero waste yang didorong Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

“Program ini menjadi solusi ganda. Pertama, mengurangi beban TPA dan pencemaran mikroplastik. Kedua, membantu meringankan biaya operasional petani dan pekerja lokal,” ujarnya

 

Cara Kerja Teknologi Pirolisis

Pirolisis adalah proses dekomposisi kimia melalui pemanasan sampah plastik tanpa oksigen. Proses ini memecah rantai polimer plastik kembali ke bentuk minyak mentah cair. Setelah melalui distilasi, hasilnya dapat digunakan sebagai bahan bakar setara solar untuk mesin diesel dan alat pertanian, serta setara bensin untuk kendaraan roda dua.

 

Dampak Ekonomi dan Lingkungan

Sejak adanya nilai ekonomi dari sampah plastik, partisipasi warga dalam memilah sampah dari rumah meningkat signifikan. BBM murah ini langsung dimanfaatkan warga untuk kebutuhan alat pertanian, mesin pemotong rumput, dan transportasi harian.

“Biasanya biaya solar untuk traktor bisa Rp 50 ribu per hari. Sekarang cukup sepertiganya,” kata I Wayan Suteja, petani di Sibang Kaja.

 

Dukungan Pemerintah

Program pemanfaatan teknologi pirolisis ini dibina langsung oleh KLHK bersama Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Badung. Ke depan, model Sibang Kaja akan direplikasi ke desa lain sebagai percontohan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

KLHK mengimbau masyarakat luas untuk mendukung gerakan pilah sampah dari rumah, karena inovasi hanya berhasil bila didukung partisipasi warga.

(Nang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *