CyberTNI.id|KUDUS,Kamis (2/7/2026) — Nama Besar KH. Sholeh Darat Semarang sudah sangat masyhur di telinga masyarakat Jawa. Beliau adalah poros keilmuan Nusantara yang melahirkan tokoh-tokoh kaliber dunia seperti Hadlrotusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan. Namun, di balik kegemilangan seorang murid yang menjadi paku bumi tersebut, ada sosok guru luar biasa yang mendidiknya dengan penuh keikhlasan di Kota Kudus. Beliau adalah Syaikhona al-‘Allamah az-Zahid Kyai Haji Raden Muhammad Sholeh bin Asnawi Sepoh, atau yang akrab dikenal sebagai KH. Sholeh Asnawi.
Silsilah Emas: Pertemuan Dua Wali Besar
KH. Sholeh Asnawi lahir dari perpaduan nasab yang luar biasa sakral. Ayahandanya adalah KH.R. Asnawi Sepuh, seorang ulama besar pendiri Pondok Pesantren Damaran (terletak di belakang kompleks Makam Sunan Kudus). Dari jalur ayah, beliau merupakan cicit dari ulama wali keramat tanah Jawa, Mbah Mutamakkin Kajen, Pati.
Sementara ibundanya, Nganten Ayu Salamah, merupakan keturunan Sayyid Ja’far Shodiq, Sunan Kudus. Mengalir dalam darah KH. Sholeh Asnawi sari-sari keilmuan dan kewalian dari otoritas keagamaan tertinggi di pesisir Jawa.
Samudra Ilmu di Pesantren Damaran
Pesantren Damaran menjadi saksi bisu bagaimana KH. Sholeh Asnawi menempa diri. Beliau mereguk ilmu langsung dari ayahandanya sendiri, KH.R. Asnawi Sepuh, serta menimba ilmu kepada ulama-ulama sepuh lainnya, termasuk Kyai Muhammad Nur Sepaton Semarang.
Kombinasi antara kecerdasan spiritual, nasab yang mulia, dan ketekunan dalam menuntut ilmu membentuk pribadi KH. Sholeh Asnawi menjadi seorang alim yang tidak hanya menguasai syariat, tetapi juga menghayatinya dengan laku zuhud, sebuah karakter yang membuat dunia bertekuk lutut di bawah kakinya tanpa pernah ia kejar.
Menjadi Sanad Utama Sang Poros Nusantara
Bukti otentik kealiman KH. Sholeh Asnawi terekam abadi dalam kitab al-Mursyid al-Wajiz fi ‘Ilmi al-Qur’ani al-‘Aziz halaman 118. Di sana, sang murid, KH. Sholeh Darat, menuliskan pengakuan yang penuh takdzim mengenai gurunya ini:
“Nuli ingsun Ngaji Tafsir al-Jalalain lil ‘Allamah as-Suyuthi wal Mahalli mareng SYAIKHONA AL-‘ALLAMAH AZ-ZAHID KYAI RADEN HAJI MUHAMMAD SHOLEH BIN ASNAWI KUDUS…”
( Kemudian saya mengaji Tafsir Jalalain karya Imam Jalaluddin As Suyuthi dan Jalaluddin Al Mahalli kepada Guru yang sangat alim serta zuhud yang bernama KHR Muhammad Sholeh Bin Asnawi Kudus)
Di bawah bimbingan KH. Sholeh Asnawi di Kudus, KH. Sholeh Darat menghatamkan dan mendalami Tafsir Jalalain, sebuah kitab tafsir standar yang menjadi kunci pembuka cakrawala pemikiran Islam Nusantara di kemudian hari. Keberkahan: Saudara dan Anak Cucu
KH. Sholeh Asnawi hidup dalam lingkungan keluarga yang diberkahi. Saudara-saudarinya pun menjadi pilar dakwah di masanya:
1. Nyai Aminah (dari jalur beliau lahir ulama ahli falak legendaris, KH. Turaihan Adjuhri).
2. Raden Ayu Shofiyyah (nenek dari KHR. Asnawi Bendan, sang penggerak awal Nahdlatul Ulama dan pendiri Madrasah Qudsiyyah Kudus).
3. Raden Syamsuri
4. Raden Nashuha
5. Raden Muhammad Sufyan
Keberkahan ilmu KH. Sholeh Asnawi tidak berhenti pada murid-muridnya saja. Melalui garis keturunannya, lahir tokoh-tokoh besar pemikir Islam modern yang menjadi kompas umat di Indonesia, seperti Rais Aam PBNU KH. MA. Sahal Mahfudz, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, hingga ulama kharismatik Lasem, KH. Abdul Qayyum (Gus Qoyyum).
Meskipun catatan sejarah detail mengenai tanggal lahir, wafat, maupun kitab-kitab pribadi karya beliau terhitung minim, kebesaran nama KH. Sholeh Asnawi tidak pernah redup. Beliau memilih jalan sunyi keikhlasan, menjadi akar yang tak terlihat di dalam tanah, namun berhasil menopang pohon ilmu yang buahnya dinikmati oleh jutaan Muslim di Nusantara hingga hari ini.
Bagi para peziarah yang singgah ke makam Sunan Kudus, langkah kaki belum lengkap jika tidak melipir sedikit ke arah selatan dari makam Sunan Kudus. Di sanalah sang zahid, KH. Sholeh Asnawi, bersemayam dengan tenang di bawah nisan tua yang menyimpan sejuta kisah keagungan ilmu masa lalu.
(Nang)












