CyberTNI.id | Ngawi — Peristiwa yang terjadi di Ngawi ini kembali menjadi cerminan nyata bagaimana gesekan antar perguruan silat masih kerap terjadi di jalanan. Seorang pemuda yang tengah berboncengan dengan ibunya sepulang acara halal bihalal, justru menjadi korban pengeroyokan setelah berpapasan dengan rombongan konvoi perguruan lain di kawasan Pasar Kerten, Paron.
Perbedaan atribut yang dikenakan diduga menjadi pemicu. Dari hal yang seharusnya bisa disikapi dengan saling menghormati, justru berubah menjadi aksi ugal-ugalan hingga berujung kekerasan. Di tengah situasi itu, sang ibu hanya bisa berteriak histeris, menyaksikan anaknya menjadi sasaran amarah sekelompok orang di depan mata.
Publik pun kembali menyoroti fenomena ini. Seni bela diri yang sejatinya menjunjung tinggi nilai persaudaraan, justru tercoreng oleh tindakan sebagian oknum di jalan. Ironisnya, pelaku di lapangan seringkali didominasi oleh remaja yang masih labil secara emosi dan mudah terbawa euforia kelompok. Sementara para senior—yang memahami nilai-nilai sejati perguruan—kini lebih banyak disibukkan dengan pekerjaan dan tanggung jawab keluarga.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa pembinaan tidak cukup hanya di tempat latihan, tetapi juga dalam sikap saat berada di tengah masyarakat.
Sudah saatnya energi kebersamaan dalam perguruan diarahkan ke hal-hal yang lebih positif. Di tengah kondisi dunia yang sedang tidak baik-baik saja, kebanggaan tidak perlu ditunjukkan dengan konvoi ugal-ugalan atau adu kekuatan di jalanan. Justru, yang lebih penting adalah bagaimana setiap individu mampu menjadi pribadi yang membawa manfaat.
Mari kembali pada esensi: menjaga nama baik, menghormati sesama, dan melakukan yang terbaik untuk keluarga. Karena pada akhirnya, kebanggaan sejati bukan tentang siapa yang paling kuat di jalanan, tetapi siapa yang paling mampu menjaga diri, melindungi orang terdekat, dan memberi arti dalam kehidupan.
Red tem












