crossorigin="anonymous">

WISATAWAN JOGJA ADA BUS GRATIS KELILING KOTA 6 RUTE BERSAMA PEMANDU PROFESIONAL

CyberTNI.id|YOGYAKARTA,Senin (15/6/2026) —  wisata Yogyakarta identik dengan macet di Malioboro atau antre panjang masuk Keraton, ada alternatif yang jauh lebih tenang, lebih dalam, dan sama sekali tidak perlu mengeluarkan uang.

Namanya Bus Jogja Heritage Track atau JHT, program wisata edukatif gratis yang dikelola oleh Dinas Kebudayaan atau Kundha Kabudayan Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Balai Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofis. Program ini sudah berjalan sejak Maret 2022 dan masih aktif hingga sekarang, menawarkan enam rute perjalanan untuk mengenal Yogyakarta dari sisi yang jarang dijangkau wisatawan biasa: sejarah, filosofi, budaya, hingga kuliner.

Setiap perjalanan berlangsung selama 1,5 hingga 2 jam, menggunakan bus panoramik kecil yang nyaman, ditemani edukator profesional yang menjelaskan setiap sudut kota yang dilalui. Gratis sepenuhnya, tapi wajib reservasi online di www.jogjaheritage.com, dibuka H-3 sebelum keberangkatan mulai pukul 12.01 WIB. Peserta minimal berusia 15 tahun dan wajib berbusana batik serta bersepatu. Titik kumpul atau meeting point berada di kantor Dinas Kebudayaan DIY atau Jogja Tourism Training Center, dekat Halte Trans Jogja GOR Among Rogo. Bus tersedia dalam dua varian: bus Malioboro warna merah dan bus Keraton warna kuning.

Berikut enam rute yang bisa dipilih sesuai minat.

Rute pertama, Sangkan Paraning Dumadi, adalah rute paling filosofis. Namanya diambil dari falsafah Jawa tentang siklus kehidupan manusia: dari mana berasal, ke mana menuju, dan apa makna penciptaan. Rute ini melewati Tugu Yogyakarta, Jalan Margo Utomo, Jalan Malioboro, Museum Sonobudoyo, Benteng Baluwarti, Kraton, Jokteng Lor, Jokteng Kulon, Krapyak, hingga Plengkung Nirbaya.

Rute kedua, Paraning Dumadi, berfokus pada makna tujuan hidup manusia. Perjalanannya melalui Tugu Yogyakarta, Jalan Margo Utomo, Jalan Malioboro, Museum Sonobudoyo, dan Pathuk.

Rute ketiga, Sangkaning Dumadi, mengangkat makna asal mula penciptaan kehidupan. Rutenya dimulai dari Jokteng Lor, Jokteng Kulon, Panggung Krapyak, Plengkung Nirbaya, kembali melalui Jokteng Kulon, lalu ke Wirobrajan.

Rute keempat, Colonial Heritage, dirancang bagi pencinta sejarah kolonial. Peserta diajak melihat bangunan-bangunan bersejarah peninggalan era kolonial yang masih berdiri hingga hari ini, melewati Pasar Kranggan, Tugu Yogyakarta, Stasiun Tugu, Jalan Malioboro, Teras Malioboro 1, Gereja Katolik FX Kidul Loji, Sayidan, Bintaran, Gereja Katolik Santo Yusup, Museum Sasmitaloka, Stasiun Lempuyangan, hingga Kotabaru.

Rute kelima, The Legacy, menelusuri jejak-jejak Kerajaan Mataram Islam yang masih bisa ditemukan di Yogyakarta. Rute ini melewati Jokteng Lor, Jokteng Kulon, Plengkung Nirbaya, Jokteng Wetan, Jokteng Lor Wetan atau Tanjung Anom, dan Museum Sonobudoyo.

Rute keenam, Jogja Culinary, adalah pilihan bagi pecinta kuliner. Peserta diajak mengenal Yogyakarta melalui cerita makanan dan tradisi kuliner lokal, dari makanan khas keraton hingga proses akulturasi yang membentuk cita rasa Jogja. Rutenya melewati SMKN 2 Yogyakarta, Tugu Yogyakarta, Pasar Kranggan, Lopis Mbah Satinem, Kopi Jos, Jalan Malioboro, Teras Malioboro 1, Wijilan, Jalan Mataram, Masjid Syuhada, dan kembali ke Tugu.

Bagi yang sedang atau berencana berlibur ke Yogyakarta, ini bisa menjadi cara paling berkesan untuk benar-benar mengenal kota ini, bukan hanya melewatinya.
(Nang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *