crossorigin="anonymous">

Budaya Nyadran atau Sedekah Bumi Tetap Lestari di Desa Gempol Legundi, Wujud Syukur dan Pelestarian Tradisi Leluhur

CyberTNI.id | Jombang – Tradisi budaya Nyadran atau yang dikenal juga sebagai Sedekah Bumi masih terus terjaga dan lestari di Desa Gempol Legundi, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang,Sabtu (27/06/2026). Kegiatan yang digelar di area makam desa ini berlangsung khidmat, meriah, dan penuh makna sebagai wujud rasa syukur masyarakat atas berkah, keselamatan, serta hasil bumi yang telah diberikan Tuhan Yang Maha Esa.

Sejak pagi hari, suasana Desa Gempol Legundi tampak semarak. Ratusan warga dari lima dusun berbondong-bondong mengikuti rangkaian acara dengan penuh antusias. Mereka hadir membawa bekal tumpeng dan aneka hasil bumi, yang menjadi simbol rasa syukur serta harapan akan keberkahan di masa mendatang.

Kepala Desa Gempol Legundi, Alip, bersama sang istri dan seluruh perangkat desa tampak mengenakan busana adat Jawa, menambah nuansa kental budaya dalam pelaksanaan tradisi tahunan tersebut. Dengan penuh khidmat, rombongan berjalan menuju area makam desa, diiringi perangkat desa serta warga masyarakat yang turut membawa tumpeng.

Hadir dalam kegiatan tersebut Alip Kepala Desa Gempol Legundi beserta istri, Hadi Mulyo Kepala Desa Janti Ganggong beserta perangkat, unsur Polsek Gudo, Danramil Gudo, tokoh agama, tokoh masyarakat, BPD Desa Gempol Legundi, serta seluruh lapisan masyarakat dari lima dusun yang ada di desa tersebut.

Tradisi Nyadran bukan sekadar ritual seremonial tahunan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi media untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga, memperkuat kebersamaan, sekaligus menjaga warisan budaya leluhur agar tidak tergerus perkembangan zaman. Di tengah modernisasi yang terus berkembang, masyarakat Gempol Legundi menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan sosial.

Acara semakin meriah dengan penampilan wayang kulit yang dibawakan oleh Ki Dalang Sarju. Pementasan tersebut sukses menghibur warga yang memadati area makam. Gelaran seni tradisional ini sekaligus menjadi pengingat bahwa budaya lokal memiliki nilai luhur yang harus terus diwariskan kepada generasi muda.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Gempol Legundi Alip menyampaikan bahwa tradisi Nyadran harus terus dijaga karena merupakan bagian dari identitas masyarakat desa.

“Nyadran bukan hanya tentang membawa tumpeng atau berkumpul bersama, tetapi juga bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT atas nikmat kehidupan, kesehatan, dan rezeki yang diberikan. Tradisi ini juga menjadi pengikat persaudaraan warga,” ujarnya.

Tokoh masyarakat Desa Gempol Legundi juga menyampaikan pesan dalam Bahasa Jawa, mengajak seluruh warga untuk terus menjaga kerukunan, gotong royong, serta menghormati para leluhur yang telah mewariskan nilai-nilai kehidupan dan budaya.

Puncak acara diisi dengan doa bersama yang dipimpin oleh Bapak Modin selaku Kaur Agama desa. Seluruh warga larut dalam suasana khusyuk, memanjatkan doa agar desa senantiasa diberi keselamatan, kemakmuran, dijauhkan dari bencana, serta diberi hasil panen yang melimpah.

Pelaksanaan acara berlangsung aman, tertib, dan lancar hingga selesai. Kehadiran unsur keamanan dari Polsek dan Koramil Gudo turut memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan kondusif.

Tradisi Sedekah Bumi di Desa Gempol Legundi menjadi bukti nyata bahwa budaya lokal masih hidup dan tumbuh di tengah masyarakat. Semangat kebersamaan, gotong royong, serta penghormatan terhadap tradisi leluhur menjadi nilai penting yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Dengan tetap lestarinya budaya Nyadran, Desa Gempol Legundi tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga merawat jati diri budaya bangsa yang menjadi kekayaan tak ternilai.(too)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *