CyberTNI.id|MADIUN — Sabtu (15/8/2026), sebuah perjumpaan dengan alam datang tanpa suara. Bukan di tengah hutan, bukan pula dalam sebuah operasi penyelamatan besar. Hanya di halaman rumah, ketika tanaman hendak disiram, seekor burung pemangsa muda tiba-tiba hadir.
Perjumpaan tak biasa itu dialami Irvan Ali Murtadho di wilayah Magetan. Di hadapannya terdapat seekor elang tikus (Elanus caeruleus) yang masih juvenil. Burung tersebut belum sepenuhnya mandiri sehingga membutuhkan penanganan yang tepat sebelum dapat kembali menjalani kehidupan liarnya.
Irvan sebenarnya memiliki pilihan untuk memelihara satwa tersebut. Namun, ia memilih jalan berbeda.
Pada 11 Agustus 2026, elang tikus itu diserahkan secara sukarela kepada Bidang KSDA Wilayah I Madiun, BBKSDA Jawa Timur, untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Keputusan yang tampak sederhana itu sesungguhnya menyimpan makna besar bagi upaya konservasi satwa liar.
Sebab, dalam konservasi, satu individu bukan sekadar angka. Ia merupakan bagian dari populasi dan mata rantai kehidupan yang terus bekerja di alam.
Ketika satwa liar diambil dari habitatnya untuk dipelihara, terlebih diperjualbelikan, yang hilang bukan hanya satu ekor hewan. Ada bagian dari keseimbangan ekosistem yang turut dipertaruhkan.
Elang tikus merupakan salah satu predator yang memiliki peran dalam ekosistem. Kehadirannya menunjukkan bahwa ruang terbuka, persawahan, padang rumput, serta lanskap yang masih menyediakan sumber makanan tetap menjadi bagian penting bagi kehidupan satwa liar.
Karena itu, menjaga populasi satwa tidak hanya menjadi tanggung jawab kawasan konservasi dan petugas. Konservasi juga ditentukan oleh keputusan masyarakat ketika berhadapan langsung dengan satwa liar.
Tidak menangkap. Tidak membeli. Tidak memelihara.
Dan ketika menemukan satwa liar yang terluka, tersesat, atau membutuhkan pertolongan, pilihan terbaik adalah menghubungi serta menyerahkannya kepada pihak yang berwenang.
Barangkali, konservasi memang bisa dimulai dari keputusan sesederhana itu.
Seekor predator muda dari Magetan mungkin belum mampu terbang sejauh individu dewasa. Namun, kehadirannya membawa pesan yang jauh lebih jauh: alam tidak membutuhkan lebih banyak satwa untuk menjadi milik manusia. Alam membutuhkan manusia yang bersedia membiarkannya tetap liar.
(Nang)












