CyberTNI.Id | KAB.MADIUN – Kisah 5 pohon sawo di sebelah masjid Desa Bacem, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, ternyata menyimpan benang merah sejarah panjang dengan tanah Pasundan, Garut, Jawa Barat. Senin (26/10/2026)
Berdasarkan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun dan diyakini masyarakat setempat, tokoh babad alas Desa Bacem, Kyai Syech Abdul Rozak, diyakini masih memiliki garis keturunan dari raja-raja di Garut.
Untuk memahami kaitan tersebut, harus ditarik mundur ke sejarah awal Garut.
Cikal Bakal Raja Garut: Dari Kendan hingga Limbangan
Wilayah Garut pada abad ke-6 Masehi merupakan bagian dari Kerajaan Kendan (536 M) yang didirikan Manikmaya, menantu Raja Tarumanagara. Jejak tertuanya adalah Candi Cangkuang di Leles, candi Hindu abad ke-8.
Memasuki era Kerajaan Sunda-Pajajaran, di Garut berdiri pemerintahan bernama Timbanganten. Pendirinya adalah Sunan Rumenggong, yang menurut naskah Pustaka Kabupaten Bhumi Limbangan Dongeng Garut, adalah cucu dari Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja).
Sunan Rumenggong adalah putra dari Sunan Gordah bin Prabu Siliwangi yang lahir dari Puteri Inten Dewata, putri Dalem Pasehan dari Timbanganten, Tarogong. Dari sinilah trah bangsawan Limbangan Garut lahir.
Limbangan kemudian menjadi pusat pemerintahan yang sangat berpengaruh hingga akhirnya pada tahun 1813, pusat pemerintahan dipindahkan dan resmi menjadi Kabupaten Garut.
Silsilah Dakwah: Dari Limbangan ke Bacem Madiun
Menurut tradisi lisan yang berkembang di Desa Bacem, silsilahnya diyakini sebagai berikut:
Prabu Siliwangi (Raja Pajajaran) → Sunan Gordah → Sunan Rumenggong (Pendiri Limbangan Garut) → Trah Dalem Timbanganten → Keturunan Penyebar Islam ke Mataram & Jawa Timur → Kyai Syech Abdul Rozak.
Trah Dalem Timbanganten inilah yang dikenal sebagai keluarga penyebar Islam. Setelah Limbangan berada di bawah pengaruh Kesultanan Cirebon dan Mataram Islam pada abad ke-16, banyak keturunan ulama dari Garut yang melakukan hijrah dakwah ke arah timur, termasuk ke wilayah Madiun.
Di Desa Bacem Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun Kyai Syech Abdul Rozak kemudian melakukan babad alas, membuka hutan lebat menjadi pemukiman, mendirikan masjid, dan menanam 5 pohon sawo di sebelahnya sebagai petilasan.
Pola dakwah ini identik dengan metode para ulama Tatar Sunda zaman dahulu: membuka lahan, membangun tempat ibadah, dan membaur dengan masyarakat.
Tradisi Leluhur Tetap Lestari
Hingga kini, masyarakat Desa Bacem meyakini bahwa 5 pohon sawo tersebut adalah saksi sejarah perjuangan sang kyai. Masjid di sebelahnya tetap menjadi pusat ibadah, sementara tradisi seperti tahlil, selamatan desa, dan penghormatan kepada leluhur masih terjaga
Kisah ini menjadi bukti adanya hubungan kultural yang kuat antara Tatar Sunda (Garut) dengan tanah Jawa Timur (Madiun) melalui jalur dakwah Islam.
(Nang)












