Agus Flores: Kasus Kematian di Garut Merupakan Pidana Murni, Jangan Dikaitkan dengan Isu Bursa Kapolri

CyberTNI.id | JAKARTA – Agus Flores menegaskan bahwa aksi demonstrasi yang dilakukan Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) di depan Markas Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Barat beberapa waktu lalu murni merupakan bentuk penyampaian aspirasi untuk mendorong penegakan hukum terkait kasus kematian yang terjadi saat pesta pernikahan Maula dan Putri di Kabupaten Garut.

Menurut Agus, tuntutan yang disampaikan dalam aksi tersebut berfokus pada permintaan agar aparat penegak hukum membuka kembali penyelidikan dan mengusut secara tuntas kasus tersebut. Ia menilai persoalan tersebut merupakan perkara pidana yang harus diselesaikan berdasarkan fakta dan ketentuan hukum yang berlaku, tanpa dikaitkan dengan kepentingan politik maupun dinamika internal institusi kepolisian.

“Ini murni aksi untuk meminta aparat membuka kembali penyelidikan kasus kematian saat pesta pernikahan Maula dan Putri di Garut. Kalau ada dugaan tindak pidana, tentu harus diproses sesuai hukum. Jangan kemudian diarahkan ke isu-isu lain yang tidak ada kaitannya,” ujar Agus Flores di Jakarta, Kamis (30/7/2026).

Agus juga menanggapi munculnya berbagai narasi di media sosial yang mengaitkan aksi tersebut dengan hubungan antara Komjen Pol Karyoto dan Komjen Pol Pipit Rismanto, bahkan hingga dikaitkan dengan isu pergantian atau bursa calon Kapolri.

Menurutnya, anggapan tersebut merupakan spekulasi yang tidak berdasar dan berpotensi mengaburkan substansi persoalan yang sebenarnya sedang diperjuangkan, yakni penegakan hukum atas kasus kematian di Garut.

“Bagi saya, persoalan ini tidak sampai ke arah sana. Jangan semua hal dikaitkan dengan dinamika internal Polri atau isu bursa Kapolri. Fokus kita adalah bagaimana kasus ini dapat ditangani secara profesional, transparan, dan memberikan rasa keadilan kepada masyarakat,” katanya.

Agus juga menyinggung bahwa Komjen Pol Karyoto dijadwalkan memasuki masa purnatugas pada Oktober mendatang, sementara Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo masih menjalankan masa tugasnya. Menurutnya, isu mengenai kedekatan sejumlah perwira tinggi dengan pimpinan Polri merupakan hal yang tidak perlu dipersoalkan selama tetap berada dalam koridor profesionalisme.

“Soal ada yang mengatakan Komjen Pipit merupakan orangnya Jenderal Listyo, menurut saya itu hal yang wajar dalam sebuah organisasi. Loyalitas kepada pimpinan adalah bagian dari profesionalisme. Tidak perlu dijadikan bahan untuk membangun opini yang tidak berdasar,” ujarnya.

Lebih lanjut, Agus mengaku prihatin terhadap munculnya berbagai tudingan, fitnah, dan propaganda yang dinilainya hanya akan memperkeruh suasana. Ia mengimbau semua pihak agar tidak membangun narasi yang dapat memicu kesalahpahaman maupun memperkeruh hubungan antarindividu di lingkungan kepolisian.

“Ada saja pihak yang sengaja memperkeruh keadaan dengan bahasa fitnah dan propaganda. Jangan menambah persoalan dengan membangun opini yang tidak berdasar. Biarkan aparat bekerja sesuai mekanisme hukum yang berlaku,” tegasnya.

Di akhir pernyataannya, Agus berharap aparat penegak hukum dapat menangani kasus kematian di Garut secara objektif, profesional, dan transparan sehingga seluruh fakta dapat terungkap dengan jelas. Menurutnya, penyelesaian perkara secara tuntas akan memberikan kepastian hukum sekaligus mencegah munculnya berbagai spekulasi yang dapat menyesatkan opini publik.

“Harapan saya sederhana, kasus ini segera dituntaskan secara terang benderang sesuai hukum. Dengan begitu, masyarakat memperoleh kepastian hukum dan perkara ini tidak terus berkembang menjadi isu yang dipolitisasi atau dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu,” pungkas Agus Flores.

 

Ridho

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *