DESAK MUNDUR PANGLIMA KODAM II/SRIWIJAYA: KAMI (KAMUS) KECAM KERAS PANGDAM KODAM II/SWJ YANG ASYIK BERPESTA DI TENGAH RAKYAT SUMSEL SESAK DIKEPUNG KABUT ASAP KARHUTLA

CyberTNI.id | PALEMBANG — Aliansi masyarakat dan mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Masyarakat Sumatera Selatan (KAMUS) melayangkan kecaman keras terhadap jajaran pimpinan Kodam II/Sriwijaya. Di tengah penderitaan masyarakat Sumatera Selatan yang tersiksa akibat bencana kabut asap parah akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Kodam II/Sriwijaya justru menggelar kegiatan seremonial mewah bertajuk Malam Puncak HUT ke-81 TNI dengan panggung hiburan megah di

Palembang pada 10 Oktober 2026.
Direktur KAMUS, Wirandi, menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan wujud nyata dari sikap “menari di atas penderitaan rakyat”. Alih-alih mengerahkan seluruh daya, anggaran, dan fokus negara untuk memadamkan api serta menyelamatkan paru-paru rakyat yang terancam infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), Panglima Kodam II/Sriwijaya dinilai tidak memiliki kepekaan krisis (sense of crisis).

“Kami atas nama KAMUS secara tegas mendesak mundur Panglima Kodam II/Sriwijaya. Sangat tidak pantas dan mencederai rasa keadilan sosial ketika rakyat di berbagai daerah di Sumsel megap-megap menghirup asap beracun dan berjuang mempertahankan hidup, pihak Kodam II/Sriwijaya justru mempertontonkan panggung hiburan meriah lengkap dengan artis pengisi acara di tengah tuntutan rakyat agar darurat karhutla segera diatasi,” ujar Wirandi dalam keterangannya, Minggu (11/10).

Prioritas Anggaran Negara Disoal: Seremonial di Tengah Darurat Asap
Bencana karhutla di Sumatera Selatan setiap tahunnya menjadi teror nyata yang merenggut kesehatan, menghentikan aktivitas ekonomi, hingga melumpuhkan sektor pendidikan akibat pekatnya asap beracun. Wirandi menyoroti bahwa alokasi anggaran negara semestinya difokuskan secara habis-habisan untuk operasi penanggulangan karhutla, penambahan helikopter water bombing, serta bantuan kesehatan darurat bagi warga. Namun, hal tersebut justru diciderai oleh gelora perayaan seremonial.

Kegiatan yang diklaim sebagai bentuk “Hadir di Tengah Rakyat” lewat pembagian sembako dinilai KAMUS sebagai pencitraan dangkal yang gagal menutupi substansi kegagalan kepemimpinan dalam merespons darurat ekologis. Pembagian paket bantuan sosial tidak akan berarti apa-apa jika sumber bencana utamanya—yakni karhutla—tidak ditangani secara serius dan tuntas, sementara rakyat terus dibiarkan menghirup racun setiap harinya.

KAMUS Desak Evaluasi dan Pencopotan Panglima Kodam II/Sriwijaya

Melihat ketidakpekaan struktural yang dipertontonkan dalam perayaan HUT ke-81 TNI di tengah nestapa rakyat Sumsel, KAMUS mendesak Mabes TNI dan pemerintah pusat untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh serta mencopot Panglima Kodam II/Sriwijaya.
“Militer harus kembali pada jati dirinya sebagai pelindung rakyat, bukan asyik berpesta pora ketika rakyatnya sendiri sedang berjuang melawan bencana di tengah kepungan asap. Jika Panglima Kodam II/Sriwijaya tidak memiliki empati terhadap keselamatan rakyat Sumsel, maka sudah sepatutnya ia mundur dari jabatannya,” pungkas Wirandi.

 

Jovi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *