crossorigin="anonymous">

Kader Muhammadiyah di Ruang Publik: Menjaga Etika Politik dan Akhlak Islami di Tengah Dinamika Demokrasi

CyberTNI.id|JAKARTA,Sabtu (13/6/2026) —Di tengah derasnya arus informasi dan dinamika media sosial, kita menyaksikan ada tokoh Muhammadiyah yang menjadi sorotan bahkan mendapat berbagai kritik dan dirujak oleh netizen.
Pada saat yang sama, tidak sedikit kader Muhammadiyah yang turut menjadi bagian dari ruang publik tersebut dengan menyampaikan pandangan, dukungan, bahkan beberapa ikut turun bersama Mahasiswa-Mahasiswi unjuk rasa di Bundaran HI.

Perbedaan pendapat adalah bagian yang wajar dalam kehidupan berdemokrasi. Namun, di atas semua dinamika itu, ada satu hal yang patut terus kita ingat bersama sebagai kader Muhammadiyah saat berada dikancah publik, yaitu menjadikan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai rujukan dalam bersikap.

Ruang publik membutuhkan suara yang cerdas, santun, berkeadaban, dan berorientasi pada kemaslahatan. Kritik dapat disampaikan, perbedaan dapat dinyatakan, tetapi semuanya tetap dalam bingkai akhlak mulia, tabayun, penghormatan terhadap sesama, serta semangat menghadirkan kebaikan bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Berikut Rangkuman PHIWM dalam kehidupan berbangsa dan bernegara:

1. Warga Muhammadiyah perlu mengambil bagian dan tidak boleh apatis (masa bodoh) dalam kehidupan politik melalui berbagai saluran secara positif sebagai wujud bermuamalah sebagaimana dalam bidang kehidupan lain dengan prinsipprinsip etika/akhlaq Islam dengan sebaik-baiknya dengan tujuan membangun masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

2. Beberapa pinsip dalam berpolitik harus ditegakkan dengan sejujur-jujurnya dan sesungguh-sungguhnya yaitu menunaikan amanat dan tidak boleh menghianati amanat, menegakkan keadilan, hukum, dan kebenaran,.ketaatan kepada pemimpin sejauh sejalan dengan perintah Allah dan Rasul mengemban risalah Islam menunaikan amar ma’ruf, nahi munkar, dan mengajak orang untuk beriman kepada Allah mempedomani Al-Quran dan Sunnah mementingkan kesatuan dan persaudaraan umat manusia, menghormati kebebasan orang lain, menjauhi fitnah dan kerusakan, mmenghormati hak hidup orang lain, tidak berhianat dan melakukan kedzaliman tidak mengambil hak orang lain, berlomba dalam kebaikan, bekerjasama dalam kebaikan dan ketaqwaan serta tidak bekerjasama (konspirasi) dalam melakukan dosa dan permusuhan, memelihara hubungan baik antara pemimpin dan warga, memelihara keselamatan umum, hidup berdampingan dengan baik dan damai, tidak melakukan fasad dan kemunkaran, mementingkan ukhuwah Islamiyah dan prinsip-prinsip lainnya yang maslahat, ihsan, dan ishlah.

3. Berpolitik dalam dan demi kepentingan umat dan bangsa sebagai wujud ibadah kepada Allah dan ishlah serta ihsan kepada sesama, dan jangan mengorbankan kepentingan yang lebih luas dan utama itu demi kepentingan diri sendiri dan kelompok yang sempit.

4. Para politisi Muhammadiyah berkewajiban menunjukkan keteladanan diri (uswah hasanah) yang jujur, benar, dan adil serta menjauhkan diri dari perilaku politik yang kotor, membawa fitnah, fasad (kerusakan), dan hanya mementingkan diri sendiri.

5. Berpolitik dengan kesalihan, sikap positif, dan memiliki cita-cita bagi terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya dengan fungsi amar ma’ruf dan nahi munkar yang tersistem dalam satu kesatuan imamah yang kokoh.

6. Menggalang silaturahmi dan ukhuwah antar politisi dan kekuatan politik yang digerakkan oleh para politisi Muhammadiyah secara cerdas dan dewasa.

Sebab, yang akan dikenang bukan hanya apa yang kita sampaikan, tetapi juga bagaimana cara kita menyampaikannya.
Sebagai kader Muhammadiyah, sudah semestinya kita menghadirkan teladan Islam yang berkemajuan, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.

(Nang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *