crossorigin="anonymous">

Puluhan Tahun Tanpa Jaringan PLN, Kampungnya Tetap Menyala Siang dan Malam

CyberTNI.id|SUMBAWA,Selasa (23/6/2026) — Bayangkan tinggal di desa yang sampai sekarang belum pernah tersentuh jaringan PLN, tapi rumah-rumah tetap terang setiap malam. Bukan karena menyerah pada keadaan, warga desa ini justru memilih membangun listriknya sendiri.

Desa Tangkam Pulit di Kecamatan Batulanteh, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, menjadi contoh nyata kemandirian energi dari pelosok negeri. Saat sebagian besar wilayah Indonesia bergantung pada jaringan listrik nasional, warga di sini punya cara mereka sendiri menghadirkan terang setiap malam.

Selasa malam, 23 Juni 2026, lampu di rumah panggung milik Sulman menyala begitu matahari terbenam. Cahaya itu bukan berasal dari PLN, melainkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro atau PLTMH yang dikelola secara mandiri oleh warga setempat.

Sudah puluhan tahun kami gunakan PLTMH sebagai sumber listrik utama, kata Sulman. Desa yang berada di kawasan hutan lindung itu memanfaatkan aliran sungai dan mata air yang melimpah untuk memenuhi kebutuhan listrik seluruh warga.

Tangkam Pulit memang bukan desa yang mudah dijangkau. Berada di pedalaman pegunungan Batulanteh dengan ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut, desa ini dihuni sekitar 1.253 jiwa. Jaraknya dari ibu kota kabupaten hanya sekitar 60 kilometer, namun perjalanan menuju desa ini bisa memakan waktu hingga 10 jam karena sebagian jalur masih berupa jalan tanah, berbatu, berlumpur, dan harus melewati sungai tanpa jembatan.

Sebelum PLTMH hadir, warga hanya mengandalkan lampu minyak tanah sebagai penerangan. Dulu malam hari cepat sekali sepi. Begitu matahari terbenam, semua kegiatan harus berhenti, kenang Sulman. Kini keadaan berubah total. Sejak ada PLTMH, malam tak lagi gelap gulita. Kami bisa beraktivitas sampai larut, anak-anak bisa belajar dengan nyaman, dan yang paling penting usaha kami bisa berjalan lebih lancar, tambahnya.

Bagi warga Tangkam Pulit, listrik bukan sekadar penerangan, tapi penggerak roda ekonomi. Usaha pengolahan kopi, hasil kebun, dan berbagai UMKM rumah tangga kini bisa berjalan lebih produktif. Soal biaya, warga hanya perlu membayar sekitar Rp 50.000 hingga Rp 100.000 per rumah setiap bulan, bahkan ada yang hanya membayar rata-rata Rp 10.000 untuk kebutuhan perawatan.

Biayanya sangat ringan, tidak memberatkan. Uang itu kami gunakan untuk menjaga agar pembangkit tetap berfungsi dan membayar petugas yang berjaga, jelas Sulman.

PLTMH ini dibangun sekitar sepuluh tahun lalu dari inisiatif masyarakat sendiri, bukan dari bantuan instan pihak luar. Warga kemudian membentuk kepengurusan khusus untuk mengelola operasional, perawatan, hingga pemeliharaan pembangkit. Listrik dialirkan mulai pukul 18.00 hingga 06.00 pagi, lalu dihentikan untuk menghemat daya. Pada siang hari, sebagian warga mengandalkan baterai yang sudah diisi sebelumnya atau memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya mandiri sebagai cadangan.

Namun perjuangan menjaga listrik tetap menyala tidak selalu mudah. Usia peralatan yang mulai tua membuat sejumlah komponen sering rusak, terutama saat musim kemarau ketika debit air menurun. Kalau rusak, suku cadang harus dipesan dari luar daerah dan butuh waktu lama. Untungnya, tenaga ahli untuk memperbaikinya sudah ada dari warga sendiri yang sudah terlatih, ujar Sulman.

Sampai saat ini, jaringan listrik dari PLN memang belum menjangkau dusun mereka. Sulman berharap pembangkit yang ada bisa dikembangkan menjadi sistem energi hibrida yang menggabungkan tenaga air dan tenaga surya, agar pasokan listrik lebih stabil dan bisa menopang usaha warga lebih besar lagi.

Kami sangat butuh dukungan agar sistem ini bisa dikembangkan. Kalau digabungkan dengan PLTS, kami yakin hasilnya akan jauh lebih baik, harapnya.

Di tengah keterbatasan akses dan tantangan alam, lampu di Tangkam Pulit tetap menyala. Energi yang dibangun dari kebersamaan warga ini menjadi bukti bahwa kemandirian listrik bisa tumbuh bahkan dari wilayah paling terpencil sekalipun.

 

 

(Nang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *