CyberTNI.id | NGAWI – Sabtu (15/8/2026), aktivitas warga Desa Purwosari, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, hampir selalu dimulai dari sawah. Sebagian besar masyarakat menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian, menjalani rutinitas sejak musim tanam hingga panen demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Namun, bagi Joko Purnomo, keberhasilan bertani tidak cukup hanya dinikmati sendiri. Ketua Kelompok Tani (Poktan) Sri Makmur tersebut berupaya agar hasil usaha kelompok juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar.
Salah satunya diwujudkan melalui depot air minum isi ulang yang dapat dimanfaatkan warga secara gratis.
Depot tersebut bukan dibangun dari keuntungan besar sebuah perusahaan. Fasilitas itu justru lahir dari sisa hasil usaha (SHU) kios pupuk yang dikelola Joko bersama anggota Poktan Sri Makmur.
“Alhamdulillah ini bentuk kepedulian daripada kelompok tani Sri Makmur bersama anggota-anggotanya. Kami menyediakan air bersih, ini hasil daripada usaha bersama dari SHU pupuk,” kata Joko saat diwawancarai Bakom RI, Jumat (14/8/2026).
Menurut Joko, penyediaan air minum gratis merupakan bentuk sederhana untuk mengembalikan manfaat usaha kelompok kepada masyarakat. Terlebih, mayoritas warga di sekitar depot juga berprofesi sebagai petani yang harus berhadapan dengan berbagai kebutuhan dan biaya produksi pertanian.
Sekitar 200 keluarga disebut memanfaatkan depot tersebut. Bahkan, sekitar 80 persen warga setempat mengambil air dari fasilitas yang sengaja disediakan tanpa pungutan.
“Jadilah (depot) air isi ulang untuk air minum warga sekitar sini. Alhamdulillah ini diambil 80 persen warga di sini. Dan ini gratis di sini, mau ngisi boleh, tidak apa-apa,” ujarnya.
Meski tidak diwajibkan membayar, kepedulian warga justru muncul secara sukarela. Sebagian masyarakat memberikan uang antara Rp2.000 hingga Rp5.000. Dana tersebut kemudian digunakan untuk membantu biaya perawatan dan operasional depot.
“Tidak disuruh mengisi pun masyarakat ini ada antusias. Ada yang isi Rp2 ribu, ada yang isi Rp5 ribu,” kata Joko.
Ia memastikan kebersihan depot tetap menjadi perhatian. Peralatan dibersihkan secara berkala, sekitar dua pekan sekali, sementara kondisi saringan juga terus dikontrol agar kualitas air yang digunakan warga tetap terjaga.
Biaya operasional harian depot pun relatif kecil, yakni sekitar Rp3.000. Meski sederhana, fasilitas tersebut mampu membantu memenuhi kebutuhan air minum masyarakat setiap hari.
Berawal dari Keluarga Petani
Kepedulian Joko terhadap kehidupan petani tumbuh sejak dirinya masih kecil. Ia lahir dari keluarga petani dan sejak kecil telah akrab dengan kehidupan di sawah.
“Kalau dikatakan menjadi petani kapan, sebenarnya kami lahir jadi anak petani. Jadi kami jadi petani ini mulai lahir,” tuturnya.
Setiap pagi, ia melihat sang ayah berangkat ke sawah. Panas matahari, lumpur, serta beratnya pekerjaan pertanian menjadi bagian dari kehidupan yang membentuk dirinya.
Menjadi ketua kelompok tani pun sebenarnya bukan sesuatu yang sejak awal direncanakan.
Pada 2006, Joko menghadiri pertemuan terkait pembentukan kelompok tani. Tanpa persiapan khusus, ia justru dipercaya menjadi ketua.
“Yang harus ke mana dan ngomong apa ini tidak ngerti,” kenangnya.
Dari situlah ia mulai belajar. Joko mencari informasi, memahami tata kelola kelompok tani, sekaligus membangun pengetahuan bersama para anggotanya.
Hampir dua dekade kemudian, pengalaman tersebut membawanya menjadi salah satu petani yang mengembangkan pertanian dengan dukungan teknologi.
Di bawah kepemimpinannya, Poktan Sri Makmur disebut mampu mendorong produktivitas hingga sekitar 9 ton gabah per hektare, sekaligus memungkinkan petani melakukan panen hingga tiga kali dalam setahun.
Pupuk Terjangkau, Beban Petani Berkurang
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian Joko adalah ketersediaan dan harga pupuk. Ia melihat sendiri bagaimana petani dengan keterbatasan modal harus menghadapi tingginya biaya sarana produksi.
“Sudah bertani itu berat, memikirkan pupuknya jadi semakin berat saja,” ujarnya.
Kondisi tersebut mendorong Joko mengajukan izin untuk menjadi kios pupuk resmi. Tujuannya agar petani di sekitar wilayahnya mendapatkan akses pupuk dengan lebih mudah dan harga yang lebih terjangkau.
Ia juga merasakan langsung perbedaan harga antara pupuk bersubsidi dan nonsubsidi.
“Kalau kita beli non-subsidi itu harganya bisa tembus sampai Rp400 ribu. Kalau kita beli subsidi Rp90 ribu, itu betul-betul terasa sekali perbedaan pupuk subsidi dan nonsubsidi,” kata Joko.
Menurutnya, berbagai dukungan pemerintah terhadap petani mulai dirasakan di tingkat lapangan. Selain akses pupuk bersubsidi, petani juga mendapatkan dukungan berupa alat-alat pertanian yang membantu mempercepat proses tanam.
“Harapan pemerintah hari ini support yang ada, alhamdulillah telah sampai kepada kami. Pupuknya mudah, harga gabahnya ditentukan. Petani dipermudah dengan bantuan alat-alat berat yang ini sangat membantu daripada percepatan tanam di kami,” ujarnya.
Bagi Joko, kebijakan yang mampu menekan biaya produksi memiliki arti penting bagi petani. Selisih biaya pupuk dapat menentukan seberapa besar modal yang masih bisa digunakan untuk mengelola lahan hingga musim panen.
Dari efisiensi itulah kemudian lahir manfaat lain.
Sebagian hasil usaha kios pupuk dikumpulkan melalui SHU kelompok hingga akhirnya diwujudkan menjadi depot air minum yang kini dimanfaatkan masyarakat Purwosari.
Sebuah bentuk sederhana yang mempertemukan pertanian, usaha kelompok, dan kepedulian sosial.
Bagi Joko, keberhasilan petani tidak semata-mata diukur dari banyaknya hasil panen. Ketika usaha yang dijalankan mampu memberikan manfaat kepada masyarakat, menurutnya, di situlah keberhasilan memiliki nilai yang lebih luas.
“Seharianya bisa membantu warga untuk air, minum, kebutuhan setiap hari, insyaallah,” pungkas Joko.
Perlu diketahui, Joko Purnomo merupakan salah satu penerima manfaat Program Pupuk Bersubsidi pemerintah. Sosoknya juga disebut Presiden Prabowo Subianto dalam Pidato Kenegaraan di Gedung DPR/MPR.
(Nang)












