CyberTNI.id | Jombang — Ormas lintas Agama, budaya, kebhinekaan anti intoleransi, radikalisme dan terorisme Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) menggelar acara kirab merah putih di kota Jombang. Acara kirab Minggu pagi (16/8/2026) melibatkan ratusan anggota ormas PNIB, santri, pesilat pendekar Pagar Nusa, Padepokan Lingpasraga, Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama’ (BEM PTNU) Jawa Timur, serta warga masyarakat Jombang.
Perjalanan kirab dimulai dari monumen Ringin Contong menuju ke alun alun Jombang dengan mengusung kain bendera merah putih sepanjang 300 meter. Jarak kirab sepanjang 4 kilometer dilalui dengan berjalan perlahan menjadi tontonan warga Jombang yang mengapresiasi kegiatan langka tersebut.
Ketua Umum PNIB sekaligus penggagas acara kirab, AR Waluyo Wasis Nugroho (Gus Wal) pernyataannya kepada awak media usia acara kirab.
“Acara kirab kali ini untuk memperingati hari sakral Proklamasi 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan bangsa. Selain itu juga dalam rangka menyambut Muktamar NU Ke 35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Jombang kota santri. Peran pemuda dan santri sangat krusial bagi bangsa dan negara di masa lalu, kini dan masa depan, selain itu Kirab Merah Putih PNIB di Jombang bersama Pagar Nusa, BEM PTNU Jawa Timur juga merupakan bentuk solidaritas, empati dan simpati untuk saudara saudara kita di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sabtu kemarin sedang mengalami musibah gempa bumi yang menimbulkan banyak korban jiwa dan harta, duka Flores NTT duka kami dan duka seluruh Indonesia” jelas Gus Wal.
Gus Wal bersama PNIB juga mengingatkan peran para ulama dan kyai dalam perjuangan kemerdekaan hingga Proklamasi 17 Agustus 1945. Menurutnya istilahn JASMERAH dan JASHIJAU tidak bisa dipisahkan.
“JAS MERAH, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah dan JAS HIJAU, Jangan Sekali-kali Hilangkan Jasa Ulama menjadi pengingat pentingnya peran para pendahulu dan pendiri bangsa. Generasi sekarang jika tidak sering diingatkan akan melupakannya, bahkan meyakini sejarah dan peran lain akibat ideologi sesat. Ini menjadi spirit utama kirab kali ini. Bukan sekedar gebyar ramai saja” imbuh Gus Wal.
Di sisi lain, Gus Wal bersama PNIB kembali menyuarakan kewaspadaan kepada semua pihak akan bahaya laten intoleransi, radikalisme, khilafah, premanisme anarkisme dan terorisme. Menurutnya kesemuanya bahaya laten tersebut ada dalam satu paket upaya disintegrasi bangsa.
“Intoleransi adalah ibu kandung dari aksi radikalisme, anarkisme terorisme dan premanisme. Semua merupakan musuh rakyat yang tidak terlihat namun nyata terjadi. Ancaman disintegrasi bangsa muncul dari perilaku tersebut yang dibiarkan tumbuh subur. Itulah bahaya laten yang ada tidak jauh dari sendi-sendi kehidupan kita. Kita jangan pernah takut, kita harus melawan mereka segelintir para provokator” tegas Gus Wal.
“Jombang dan Jawa Timur kondusif dengan saling jaga tetangga, jaga kampung dan jaga persatuan. Momentum Muktamar nanti menjadi ajang pembuktian kerukunan dan keharmonisan para Nahdliyin di bulan kemerdekaan ini, mari dukung dan sukseskan Muktamar NU Ke 35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang dengan semangat khidmat kepada para kyai dengan ceria, senang gembira” terang Gus Wal.

Peran Santri dan Pemuda sangat Krusial Bagi Bangsa, hal itu sudah tercatat dalam sejarah perjuangan memerdekakan bangsa dan negara Indonesia, dimana pemuda saat itu menculik dan mendesak golongan tua Soekarno – Hatta agar segera memproklamirkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan akhirnya terwujud Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia 17 Agustus 1945, serta peran Santri yang tak kalah heroiknya mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang baru seumur jagung saat itu, ditandai dengan peristiwa 10 November Surabaya dimana Santri berjuang bahu-membahu mati matian dalam pertempuran besar tersebut yang didahului oleh Resolusi Jihad yang difatwakan oleh Muasis (Pendiri) Nahdlatul Ulama’ Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari selaku Rois Akbar NU, papar Gus Wal.
Melalui Kirab Merah Putih di Jombang ini PNIB mendesak kepada negara dalam hal ini pemerintah untuk menetapkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 ditetapkan menjadi dasar negara Indonesia dan pilar kebangsaan, sebagai wujud mensyukuri anugrah nikmat alam Kemerdekaan yang didapatkan dan dirasakan oleh Rakyat Indonesia.
Momentum Peringatan 81 Tahun Kemerdekaan Bangsa dan negara Indonesia ini semoga menjadi pengingat agar Negara, Bangsa dan Rakyat Indonesia Merdeka 100%, 100% Merah Putih, Merdeka dari Korupsi, Intoleransi, Terorisme Khilafah Radikalisme Anarkisme Premanisme, Merdeka 100%, Merah Putih 100% bukan setengah setengah, pungkas Gus Wal.
( s.adi.w )












