PANGIMA KESATRIA JAWA BERSATU, SRIADI “MBAH DIPO”: SOSOK SEDERHANA DI BALIK GERAKAN SOSIAL, PERTANIAN, DAN PELESTARIAN ADAT JAWA

CyberTNI.id | Jawa Tengah — Di tengah derasnya arus modernisasi yang perlahan mengikis sebagian nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal, masih terdapat sosok yang memilih berdiri di garis depan untuk menjaga marwah budaya Jawa. Salah satunya adalah Panglima Kesatria Jawa Bersatu, Sriadi, yang di kalangan masyarakat lebih dikenal dengan sebutan Mbah Dipo.

Di balik penampilannya yang sederhana dan sikapnya yang dikenal ramah terhadap siapa pun, Mbah Dipo ternyata memiliki perjalanan panjang dalam aktivitas sosial kemasyarakatan, pertanian, serta pelestarian adat dan budaya Jawa. Sosoknya bahkan dikenal cukup dekat dengan lingkungan masyarakat yang mempertahankan tradisi dan nilai-nilai lokal.

Nama Mbah Dipo disebut memiliki keterkaitan erat dengan masyarakat di kawasan kampung Suku Samin. Bahkan, di tengah masyarakat beredar kisah bahwa dirinya memiliki garis keturunan dari salah satu tokoh yang dikenal dalam sejarah komunitas Samin. Kisah tersebut menjadi bagian dari identitas kultural yang melekat pada sosok Mbah Dipo dan semakin memperkuat kedekatannya dengan gerakan pelestarian adat serta budaya Jawa.

DARI MASYARAKAT, UNTUK MASYARAKAT

Bagi Mbah Dipo, mempertahankan budaya bukan sekadar berbicara mengenai pakaian tradisional, bahasa Jawa, atau berbagai upacara adat. Menurut pandangan yang berkembang di lingkungan Kesatria Jawa Bersatu, budaya juga harus diwujudkan melalui kepedulian terhadap kehidupan masyarakat.

Pertanian menjadi salah satu bidang yang mendapat perhatian serius.

Mbah Dipo dikenal aktif dalam kegiatan yang berkaitan dengan pertanian dan pemberdayaan masyarakat. Dari sinilah muncul semangat membangun kekuatan masyarakat melalui ketahanan pangan. Baginya, masyarakat yang memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan pangannya sendiri adalah masyarakat yang memiliki fondasi kemandirian.

Di lingkungan pendukungnya juga dikenal sebuah perkumpulan yang disebut Semut Ireng, yang bergerak dalam bidang pertanian dan pemberdayaan masyarakat. Di tengah masyarakat, kelompok tersebut bahkan kerap disebut memiliki jaringan anggota dalam jumlah besar.

Namun, kekuatan yang ingin dibangun bukan semata-mata mengenai jumlah orang. Semangat yang dibawa adalah bagaimana masyarakat dapat bergerak bersama, saling membantu, serta membangun ketahanan pangan dari tingkat bawah.

Prinsipnya sederhana: bergerak dari akar rumput, membangun kemandirian, dan menjaga kebersamaan.

MBAH DIPO, SIMBOL KESEDERHANAAN DAN KETEGUHAN

Banyak tokoh dikenal karena jabatan dan atribut yang melekat pada dirinya. Namun Mbah Dipo justru dikenal melalui kesederhanaannya.

Di tengah posisi sebagai Panglima Kesatria Jawa Bersatu, ia tetap berusaha menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat. Sikap ramah dan terbuka terhadap berbagai kalangan menjadi salah satu karakter yang membuat namanya cukup dikenal di lingkungan masyarakat yang mengenalnya.

Kesederhanaan tersebut justru menjadi kekuatan tersendiri.

Sebab bagi Mbah Dipo, menjaga budaya Jawa tidak harus selalu dilakukan dari tempat yang megah. Nilai-nilai Jawa justru harus hidup di tengah masyarakat, di desa-desa, di lahan pertanian, di lingkungan keluarga, dan dalam hubungan antarmanusia.

Budaya tidak cukup hanya dikenang. Budaya harus dijalankan.

PERTEMUAN TERTUTUP BERSAMA KETUA UMUM KESATRIA JAWA BERSATU

Di tengah perkembangan Kesatria Jawa Bersatu, komunikasi antara Panglima Sriadi atau Mbah Dipo dengan Ketua Umum Kesatria Jawa Bersatu, Wibisono, menjadi bagian penting dalam menyusun arah organisasi ke depan.

Dalam sebuah pertemuan yang berlangsung secara tertutup, keduanya membahas berbagai hal strategis mengenai penguatan organisasi dan bagaimana Kesatria Jawa Bersatu dapat semakin dikenal serta diterima oleh masyarakat luas.

Pertemuan tersebut tidak sekadar membicarakan struktur organisasi, tetapi juga membahas bagaimana organisasi dapat hadir secara nyata di tengah masyarakat.

Kesatria Jawa Bersatu ingin membangun citra sebagai organisasi yang tidak hanya berbicara mengenai identitas Jawa, tetapi juga mampu memberikan manfaat melalui kegiatan sosial, kebudayaan, pertanian, pemberdayaan masyarakat, serta berbagai kegiatan kemasyarakatan lainnya.

Bagi Wibisono dan Mbah Dipo, organisasi harus memiliki akar yang kuat di masyarakat.

Sebab organisasi yang hanya besar di atas kertas tidak akan memiliki arti apabila tidak mampu memberikan manfaat kepada masyarakat.

MENJAGA MARWAH JAWA DI TENGAH PERUBAHAN ZAMAN

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian Kesatria Jawa Bersatu adalah semakin tergerusnya sebagian nilai adat dan budaya Jawa akibat perubahan zaman.

Bahasa, tata krama, unggah-ungguh, gotong royong, penghormatan terhadap orang tua, kepedulian terhadap lingkungan, hingga berbagai tradisi lokal menghadapi tantangan besar di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup.

Dalam kondisi seperti itu, Kesatria Jawa Bersatu ingin mengambil peran.

Organisasi ini membawa semangat bahwa budaya Jawa harus tetap hidup dan berkembang tanpa harus kehilangan jati dirinya.

Menjaga Jawa bukan berarti menolak kemajuan zaman.

Sebaliknya, masyarakat Jawa harus mampu mengikuti perkembangan zaman sambil tetap membawa nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.

Karena kemajuan tanpa jati diri dapat membuat sebuah bangsa kehilangan arah.

“KALAU BUKAN KITA, SIAPA LAGI?”

Kalimat tersebut menjadi semangat yang ingin terus dibangun oleh Kesatria Jawa Bersatu.

Kalau bukan generasi Jawa sendiri yang menjaga adat, budaya, bahasa, tradisi, dan nilai-nilai luhur leluhur, lalu siapa lagi?

Pertanyaan tersebut bukan sekadar slogan.

Ia menjadi tantangan bagi generasi muda agar tidak malu mengenal akar budayanya sendiri.

Kesatria Jawa Bersatu ingin mengajak masyarakat untuk kembali memahami bahwa budaya bukan sesuatu yang kuno. Budaya merupakan identitas dan warisan yang harus dijaga agar tetap memiliki tempat di tengah perkembangan zaman.

Di sinilah sosok Panglima Sriadi atau Mbah Dipo menjadi salah satu figur yang memiliki peran penting dalam gerakan tersebut.

Dengan latar aktivitas sosial, pertanian, serta kedekatan dengan masyarakat adat dan budaya, Mbah Dipo diharapkan mampu menjadi salah satu penggerak dalam memperkuat keberadaan Kesatria Jawa Bersatu di tengah masyarakat.

KESATRIA JAWA BERSATU: BUKAN SEKADAR NAMA

Kesatria Jawa Bersatu ingin membuktikan bahwa nama besar organisasi harus diikuti dengan kerja nyata.

Bukan hanya berbicara mengenai kebesaran Jawa, tetapi juga hadir ketika masyarakat membutuhkan.

Bukan hanya mengangkat simbol budaya, tetapi juga ikut menjaga kehidupan masyarakat.

Bukan hanya mengenakan atribut tradisional, tetapi memahami makna yang terkandung di dalamnya.

Dan bukan hanya mengaku sebagai bagian dari Jawa, tetapi mampu menunjukkan kecintaan terhadap Jawa melalui tindakan.

Panglima Sriadi “Mbah Dipo” bersama Ketua Umum Wibisono dan jajaran Kesatria Jawa Bersatu kini menghadapi tantangan yang tidak ringan: membangun organisasi agar semakin dikenal masyarakat sekaligus memastikan semangat pelestarian budaya tidak berhenti sebagai slogan.

Jawa harus tetap memiliki marwah.

Adat harus tetap memiliki tempat.

Budaya harus tetap hidup.

Dan masyarakat harus menjadi bagian utama dari gerakan tersebut.

Dari tanah pertanian, dari kehidupan masyarakat desa, dari nilai gotong royong, hingga warisan leluhur yang terus dijaga, Kesatria Jawa Bersatu ingin menegaskan satu sikap:

“Siji Warongko, Ojo Nganti Belah Pisah.”

Satu wadah, satu semangat, satu kebersamaan.

Karena ketika budaya mulai tergerus, tidak cukup hanya mengeluh.

Harus ada yang berdiri.

Harus ada yang bergerak.

Dan harus ada yang menjaga.

Kalau bukan kita, siapa lagi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *