CyberTNI.id|JAKARTA,Kamis (4/6/2026) — Cara koruptor menimbun dan mencuci uang haram di negeri ini benar-benar makin gila dan di luar nalar! Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali membongkar trik licik komplotan Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Wamen Imipas) nonaktif, Silmy Karim, dalam menyamarkan duit hasil memeras Warga Negara Asing (WNA) terkait izin tinggal.
Dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK Ketua KPK Setyo Budiyanto membeberkan kelakuan salah satu tersangka, Juniadi Sri Priambudi (JSP). Mengetahui KPK mulai mengendus kedoknya, Ketua Tim Alih Status ITAS ini nekat membeli sebuah rumah mewah tidak menggunakan rupiah atau transfer bank, melainkan dibayar langsung secara tunai memakai gundukan kepingan emas batangan! Saking paniknya, cara transaksi zaman purba pun dilakukan demi menghindari radar PPATK!
Gaji Cuma 3 Persen, Sisanya Duit Peras Dokumen!
Kebejatan moral gerombolan ini makin bikin elus dada. Berdasarkan laporan PPATK, ditemukan aliran dana mencurigakan pada 96 rekening milik 35 pegawai Kementerian Imipas yang totalnya menembus Rp 366,7 MILIAR! Mirisnya, dari total uang bejibun itu, hanya 3% atau Rp 9,7 miliar yang murni bersumber dari gaji resmi mereka sebagai abdi negara. Sisanya? 97% adalah duit haram hasil memeras WNA!
Rekening ‘Office Boy’ Dipakai Jadi Penampung Duit Haram
Agar tidak ketahuan, staf Subdit Izin Tinggal berinisial GST menampung fee haram tersebut ke berbagai rekening palsu (nominee). Mereka tega meminjam dan memanfaatkan rekening milik office boy (OB), cleaning service, keluarga, bahkan sampai sengaja “membeli” rekening orang lain!
Sistem korupsi ini berjalan sangat rapi dan terstruktur rapi dari atas ke bawah. Perintah pemerasan berkedok pungli diperintahkan langsung oleh Silmy Karim, diturunkan ke Direktur Jaya Saputra, lalu diteruskan ke para Kasubdit, hingga dieksekusi oleh para staf di lapangan.
Fakta ini menjadi tamparan super keras, terutama untuk daerah pariwisata internasional seperti Bali yang setiap harinya mengurus ribuan izin tinggal WNA. Pantas saja birokrasi keimigrasian kerap dikeluhkan, ternyata uangnya mengalir deras ke kantong pejabat serakah untuk beli emas dan rumah.
(Nang)












