CyberTNI.id|NGAWI,Senin (5/10/2026) — Tidak semua warga tahu, tugu yang setiap hari dilewati di perempatan Jalan Yos Sudarso – A. Yani – Basuki Rahmat – PB Sudirman itu menyimpan sejarah panjang dan nilai anggaran hingga miliaran rupiah.
Tugu Gading Kartonyono, yang kini menjadi ikon dan jantung Kota Ngawi, bukanlah tugu baru. Cikal bakalnya sudah ada sejak tahun 1983, saat kawasan itu masih berupa simpang tiga, sebelum Jalan Basuki Rahmat dibangun sebagai jalan protokol penghubung barat-timur dan utara-selatan.
Nama Kartonyono sendiri diambil dari nama Lurah Margomulyo yang kediamannya berada di timur tugu dan tergusur akibat pembangunan jalan baru tersebut.
Setelah lebih dari tiga dekade berdiri, Pemerintah Kabupaten Ngawi menggagas wajah baru melalui sayembara desain tahun 2017. Tugu lama kemudian dibongkar pada 30 Juni 2017, dan tugu baru dengan desain Gading Gajah selesai dibangun pada 2 November 2018.
Pembangunan ini menelan anggaran sekitar Rp 3,1 Miliar yang bersumber dari APBD Ngawi 2018. Namun anggaran tersebut tidak hanya untuk fisik tugu. Menurut DPUPR Kabupaten Ngawi, anggaran tersebut sudah mencakup penataan persimpangan, leveling jalan, pemindahan marka, traffic light, dan pekerjaan pendukung lainnya.
Secara filosofis, tugu setinggi 5 meter ini terdiri dari 7 gading putih yang menopang 1 gading emas di puncaknya. melambangkan rasa syukur kepada Tuhan. Bentuk gading dipilih karena sangat identik dengan sejarah Kabupaten Ngawi sebagai daerah penemuan fosil gajah purba dan manusia purba di kawasan *Museum Trinil*, yang ditemukan Eugene Dubois.
Keunikan lain, Tugu Gading Kartonyono dirancang *dapat berputar 90 derajat setiap 3 jam*, menjadikannya tugu dinamis yang menjadi daya tarik wisatawan untuk berfoto.
(Nang)












