CyberTNI.id|JAKARTA — Indonesia bersiap menerima tambahan 18 jet tempur modern mulai tahun 2027. Pengiriman pesawat tersebut akan dilakukan secara bertahap hingga diperkirakan rampung pada 2029.
Rencana ini menjadi bagian dari program modernisasi kekuatan udara nasional untuk memperkuat kemampuan TNI Angkatan Udara dalam menjaga wilayah udara Indonesia yang luas dan strategis.
Kepastian mengenai jadwal kedatangan tersebut disampaikan Wakil Kepala Staf TNI AU, Marsekal Madya TNI Tedi Rizalihadi, pada September 2026. Meski demikian, pengiriman tidak dilakukan sekaligus pada 2027 karena proses penerimaan direncanakan berlangsung secara bertahap selama beberapa tahun.
Senin (12/10/2026)
Jumlah pesawat yang akan tiba pada setiap tahun juga belum dirinci secara terbuka.
Harga Satu Pesawat Diperkirakan Rp2,7 Triliun
Angka Rp2,7 triliun per unit menjadi gambaran besarnya investasi yang dibutuhkan untuk menghadirkan pesawat tempur modern. Namun, angka tersebut perlu dipahami secara tepat. Nilai itu merupakan estimasi rata-rata berdasarkan nilai paket pengadaan keseluruhan, bukan harga resmi satu pesawat yang diumumkan secara terpisah oleh pemerintah.
Pengadaan pesawat tempur tidak hanya berkaitan dengan badan pesawat dan mesin. Kontrak pertahanan dapat mencakup pelatihan penerbang, dukungan teknis, suku cadang, fasilitas pemeliharaan, simulator, serta komponen pendukung lainnya. Karena itu, nilai paket pengadaan tidak selalu bisa disamakan dengan harga pesawat saja.
Jika menggunakan estimasi Rp2,7 triliun per unit, maka 18 pesawat memiliki nilai hitungan sekitar Rp48,6 triliun. Angka tersebut merupakan simulasi aritmetika, bukan konfirmasi nilai kontrak khusus untuk 18 pesawat yang akan dikirimkan mulai 2027.
Bagian dari Program Modernisasi Kekuatan Udara
Tambahan pesawat tempur ini merupakan bagian dari rencana besar untuk memperkuat armada TNI AU. Indonesia membutuhkan kekuatan udara yang mampu menjalankan berbagai misi, mulai dari patroli dan pengamanan wilayah udara hingga operasi pertahanan dalam menghadapi ancaman yang berkembang.
Namun, modernisasi pertahanan udara tidak cukup hanya dengan menambah jumlah pesawat. Kesiapan penerbang, kemampuan teknisi, ketersediaan suku cadang, persenjataan, sistem radar, serta koordinasi dengan unsur pertahanan lainnya juga menentukan seberapa efektif pesawat dapat digunakan dalam operasi.
Karena itu, keberhasilan program ini nantinya tidak hanya diukur dari berapa banyak pesawat yang tiba, tetapi juga dari kesiapan seluruh sistem pendukungnya.
Menanti Realisasi Pengiriman Mulai 2027
Rencana kedatangan 18 pesawat tambahan menunjukkan bahwa modernisasi kekuatan udara Indonesia masih berlanjut. Akan tetapi, jadwal pengiriman tetap perlu dipantau karena belum tersedia rincian publik mengenai jumlah pesawat yang akan diterima setiap tahun.
Apabila pengiriman berjalan sesuai perkiraan, tambahan armada tersebut akan menjadi bagian penting dalam pengembangan kemampuan TNI AU hingga akhir dekade ini.
Perhatian berikutnya adalah bagaimana pemerintah memastikan kesiapan operasional, dukungan pemeliharaan, dan ketersediaan anggaran agar investasi pertahanan bernilai besar ini dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi Indonesia.
(Nang)












