crossorigin="anonymous">

Mualem Minta Gas Andaman Diolah di Aceh, Jangan Terulang Kisah Aceh Hanya Jadi Penonton

CyberTNI.id | BANDA ACEH – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem, menegaskan bahwa gas alam yang ditemukan di Wilayah Kerja (WK) South Andaman tidak boleh seluruhnya dialirkan ke luar Aceh tanpa memberikan manfaat nyata bagi daerah penghasil.

Menurut Mualem, Aceh tidak boleh mengulangi pengalaman masa lalu saat pengelolaan ladang gas Arun di Aceh Utara, di mana masyarakat Aceh dinilai hanya menjadi penonton di tengah besarnya proyek migas tersebut.

“Kita sudah tahu bagaimana dulu gas Arun. Pada masa Presiden Soeharto, kita hanya menjadi penonton terbaik,” kata Mualem.

Pernyataan itu disampaikan saat menerima kunjungan silaturahmi Abdul Latief, tokoh asal Aceh yang juga pendiri HIPMI, bersama sejumlah tokoh Aceh lainnya di Meuligoe Gubernur Aceh, Jumat (29/5/2026). Video pertemuan tersebut kemudian ditayangkan melalui akun media sosial pribadi Mualem pada Senin (1/6/2026).

Di hadapan para tokoh tersebut, Mualem menekankan pentingnya memastikan pengelolaan gas alam Andaman memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat Aceh.

“Nanti pipa gas dibangun sampai ke Jakarta, sementara kita tidak mendapatkan apa-apa. Itu yang harus dipikirkan,” ujarnya.

Mualem menilai Pemerintah Aceh perlu merancang konsep pembangunan yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui pemanfaatan sumber daya gas secara optimal di wilayah Aceh.

Ia berharap pemerintah pusat dan seluruh pemangku kepentingan mempertimbangkan pembangunan fasilitas pengolahan gas di Aceh, sehingga sumber daya alam tersebut tidak seluruhnya dibawa keluar daerah tanpa nilai tambah bagi masyarakat setempat.

“Minimal harus ada yang ditinggalkan dan diolah di Aceh, jangan semuanya dibawa keluar,” tegasnya.

Lebih lanjut, Mualem mengatakan keberadaan industri hilir dan pabrik-pabrik berbasis gas di Aceh akan membuka lapangan pekerjaan yang luas bagi masyarakat, khususnya generasi muda Aceh.

“Perlu dibangun pabrik-pabrik di kawasan Arun atau lokasi lainnya, sehingga anak-anak dan adik-adik kita bisa mendapatkan pekerjaan dan merasakan manfaat langsung dari kekayaan alam Aceh,” pungkasnya.

 

 

Eka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *