CyberTNI.id | Kebumen – Polres Kebumen resmi meluncurkan Program Polda Jawa Tengah Peduli Congenital Talipes Equinovarus (CTEV) atau kaki pengkor.
Program ini bertujuan memperkuat deteksi dini dan memperluas akses pengobatan bagi anak yang lahir dengan kelainan bentuk kaki.
Peluncuran dilaksanakan di Gedung Tribrata Polres Kebumen, Kamis (20/8/2026). Dalam program ini, Bhabinkamtibmas (Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat) berperan sebagai penghubung antara keluarga, tenaga kesehatan, pemerintah daerah, kader kesehatan, dan fasilitas pelayanan kesehatan.
Sinergi Lintas Sektor untuk Penanganan Lebih Cepat
Kapolres Kebumen AKBP I Putu Bagus Krisna Purnama menekankan bahwa penanganan CTEV memerlukan kolaborasi berbagai pihak. Menurutnya, keterlambatan penanganan sering terjadi karena keluarga tidak menyadari kondisi kaki anak atau tidak mengetahui layanan kesehatan yang tersedia.
“Bhabinkamtibmas dapat menyampaikan informasi kepada masyarakat secara humanis, mendorong keluarga agar tidak mengabaikan kondisi kaki bermasalah pada anak, serta membantu menghubungkan masyarakat dengan pihak kesehatan atau layanan terkait,” ujar AKBP Putu.
CTEV merupakan kelainan bawaan yang menyebabkan kaki bayi berada dalam posisi mengarah ke bawah dan ke dalam. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 95 persen anak dengan kondisi ini dapat mencapai mobilitas penuh jika ditangani sejak dini. Sebaliknya, tanpa penanganan yang tepat, CTEV dapat menyebabkan kesulitan berjalan, nyeri kronis, hingga disabilitas jangka panjang.
Tantangan di Lapangan: Keterlambatan Deteksi
Masalah utama dalam penanganan CTEV adalah keterlambatan deteksi. Banyak keluarga menganggap bentuk kaki yang tidak normal sebagai akibat posisi bayi dalam kandungan yang akan membaik sendiri. Sebagian baru mencari pertolongan ketika anak mulai berdiri atau berjalan.
AKBP Putu berharap Bhabinkamtibmas tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga aktif membantu keluarga mengakses layanan kesehatan. “Penanganan kaki bermasalah tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan sinergi antara Polri, tenaga kesehatan, pemerintah daerah, kader kesehatan, tokoh masyarakat, serta keluarga,” tegasnya.
Dukungan Dinas Kesehatan dan Muhammadiyah
Sekretaris Dinas Kesehatan Kebumen Indrayani Achmal mengapresiasi program ini sebagai bagian dari dukungan terhadap layanan kesehatan di Kabupaten Kebumen. “Kami sangat terbantu dari jajaran Polres Kebumen. Semoga program ini berlanjut dan bermanfaat bagi kita semua,” katanya.
Dukungan juga datang dari Muhammadiyah. Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kebumen Bidang Tablig, H. Abdul Rais, menyatakan kesiapan berkolaborasi melalui sarana dan prasarana yang dimiliki.
Muhammadiyah memiliki empat rumah sakit di Kebumen, yaitu PKU Muhammadiyah Gombong, Sruweng, Kutowinangun, dan Petanahan.
Manager Pemasaran PKU Muhammadiyah Gombong Ferry Wijatmoko menambahkan bahwa rumah sakitnya siap menjadi fasilitas rujukan bagi anak dengan CTEV. “Kami selaku rumah sakit rujukan siap melayani rujukan kaki pengkor atau CTEV,” ujarnya. PKU Muhammadiyah Gombong juga siap membantu melalui Lazismu bagi masyarakat yang membutuhkan dukungan biaya.
Buku Saku CTEV untuk Bhabinkamtibmas
Sebagai bagian dari program, dilakukan penyerahan buku saku CTEV kepada para Bhabinkamtibmas.
Buku ini diharapkan menjadi panduan saat memberikan edukasi kepada masyarakat di wilayah binaan masing-masing.
Program ini tidak berhenti pada peluncuran. Hasil rapat koordinasi dan launching diharapkan diteruskan ke masyarakat di tingkat desa.
Dengan demikian, penanganan CTEV tidak lagi bergantung pada inisiatif keluarga yang sudah mengetahui kondisi tersebut, melainkan melalui sistem deteksi aktif di tingkat akar rumput.
Bagi anak dengan CTEV, informasi yang sampai lebih awal dapat berarti kesempatan untuk berjalan lebih baik di masa depan.
Imam R












